Kecanduan “Gadget” Menimbulkan Efek Bosan Pada Anak

Dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini, orang tua perlu menjaga anak-anak agar terhindar dari dampak negatif, namun juga tetap mendapat dampak positifnya.

145795_anak-makan-sayur_663_382

Ketertarikan terhadap pesatnya tekhnologi inilah yang membuat kehidupan nyata menjadi membosankan bagi anak-anak

Menurut psikolog senior, para orang tua perlu membiarkan anak untuk tetap melek teknologi, tetapi tidak serta merta membebaskan mereka dalam penggunaan teknologi. Salah satu contoh sederhana adalah penggunaan gadget seperti ponsel, tablet ataupun laptop.

Orang tua tetap perlu membuat pembatasan pada penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, penggunaan yang tidak terkendali akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi anak.

“Ibarat ikan, dulu kita hidup di air tawar. Seiring perkembangan zaman, saat ini kita hidup di air payau. Kita tidak bisa memaksakan anak untuk menjalani gaya hidup di air tawar, karena mereka sudah dilahirkan di air payau,” .

Artinya, para orang tua perlu membiarkan anak untuk tetap akrab dengan teknologi, tetap dengan menerapkan peraturan dan pembatasan. Karena jika tidak, yang akan terjadi adalah anak-anak akan lebih tertarik dengan gadget dan tidak tertarik dengan kehidupan nyata.

Layar gadget yang berkedip dengan cepat dapat menstimulasi otak anak-anak untuk merasa tertarik. Ketertarikan inilah yang membuat kehidupan nyata menjadi membosankan bagi anak-anak.

Oleh karenanya, perlu adanya pembatasan oleh para orang tua dalam penggunaan gadget. “Beri pengertian pada anak Anda bahwa fungsi gadget adalah untuk berkomunikasi sehingga penggunaannya perlu dibatasi,”

Hal ini juga berlaku bagi orang tua, karena orang tua adalah role model bagi anak. “Jangan sampai orang tua melarang anak menggunakan gadget namun tidak membatasi gadget untuk diri mereka sendiri.

Namun terkadang, ada pula orang tua yang malah mengalihkan perhatian anak dengan gadget karena tak ingin anaknya bergerak terlalu aktif. Padahal bergerak aktif adalah salah satu proses alamiah anak dan tak perlu dialihkan dengan penggunaan gadget.

“Anak-anak memang tipikalnya tidak bisa diam, biarkan saja, nanti juga ada masanya mereka tidak terlalu aktif. Malah begitu yang bagus, jangan dilarang, apalagi dialihkan dengan gadget,”.

ID_KESEHATANKECANTIKAN_SUPLEMEN_SET1_468X60_120620

Hendaknya Jangan Bertengkar di Depan Anak !

Apabila sering terjadi konflik pada orangtua akan berdampak buruk pada gangguan psikologis sang buah hati. Padahal, orangtua seharusnya memberikan contoh kepada anak-anak mereka bagaimana bersikap baik.

Berapa pun usia anak Anda, sebenarnya anak sudah dapat merasakan efek negatif dan ekspresi wajah ketika perselisihan terjadi. Bukan itu saja, anak mungkin akan belajar menggunakan apa yang telah didengar dari pertengkaran tersebut dan mulai memanggil orang lain dengan kata-kata kasar.

pertengkaran

Dampak negatif lainnya, anak akan menjadi pasif atau agresif, kurang keyakinan untuk bersosialisasi, berkelakuan buruk, sering kencing malam, menyendiri, dan sedih.

Beberapa Konsultan psikiatri menuturkan bahwa anak-anak umumnya akan merasa sangat stres jika terus hidup dalam kondisi lingkungan yang tegang. Padahal, stres negatif tidak sepatutnya menjadi bagian dari kehidupan anak karena akan memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Perselisihan paham dengan pasangan adalah sesuatu yang normal. Jika anak Anda menyaksikan pertengkaran yang konstruktif (di mana Anda dan pasangan sama-sama menyelesaikan masalah sambil menunjukkan rasa sayang sepanjang perbincangan), maka anak Anda juga akan belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkompromi.

Berikut adalah beberapa saran bagaimana Anda dapat mengontrol pertengkaran dan memastikan anak Anda tidak terpengaruh secara negatif.

1) Rasa hormat

Kita harus selalu ingat bahwa kita perlu selalu menunjukkan rasa hormat terhadap pasangan kita. Dengar apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda dan berusaha menahan diri untuk tidak memanggil pasangan dengan nama yang kurang baik, menggunakan bahasa vulgar, meninggikan suara atau mengatakan sesuatu yang akan menyebabkan Anda menyesal nanti.

2) Fokus pada penyelesaian

Ingatlah bahwa Anda sedang mencoba mencari penyelesaian. Anda tidak perlu membuktikan bahwa pasangan Anda yang salah dan Anda yang benar. Bila perasaan sudah tenang, luangkanlah waktu untuk duduk bersama dan bicara secara baik-baik.

3) Jangan berpihak

Jangan libatkan anak Anda dalam konflik di antara Anda berdua. Meminta anak Anda untuk berpihak antara Anda dan pasangan adalah sesuatu yang tidak adil dan akan mengakibatkan anak Anda merasa sangat sedih.

4) Belajar minta maaf

Mohon maaf kepada pasangan Anda di hadapan anak Anda setelah bertindak secara keterlaluan. Biarkan anak Anda melihat bahwa Anda bertanggung jawab terhadap kata-kata Anda sendiri.

5) Berbincang dengan Anak Anda

Anak mungkin menganggap dirinya sebagai pencetus konflik terkait beberapa pertengkaran Anda dan pasangan. Anak juga mungkin menganggap bahwa Anda berdua akan berpisah. Oleh karena itu, cobalah berdiskusi dengan anak Anda setelah “bentrokan” usai. Jelaskan kepadanya bahwa mama dan papa masih saling menyayangi walaupun terkadang bertentangan pendapat.

Ingatlah bahwa Anda adalah contoh bagi anak Anda. Berusahalah untuk selalu menjadi contoh yang baik kepada anak dengan mencoba mengontrol emosi dan amarah. Jika pertengkaran tidak dapat terelakan, pastikan anak Anda tidak mendengarnya.

Anak Belajar Norma Etika Dari Interaksi Orangtua

Kondisi anak yang selalu kebanjiran informasi akan lebih mudah terpapar hal yang bersifat negatif. Tanpa pendampingan orangtua, kondisi ini mengakibatkan anak akan kesulitan memilah informasi. Karenanya, peran orangtua untuk berinteraksi dengan anak dan mendampinginya menjadi penting.

anakkkkkkkk

Beberapa pakar mengungkapkan bahawa minimnya pendampingan orangtua berdampak pada rendahnya pengendalian diri anak. Faktor ini berkaitan dengan terjadinya kasus pembunuhan dan penganiayaan di kalangan anak dan remaja.

Interaksi yang terbatas menyebabkan anak hanya mendapat sedikit pendampingan orangtua, padahal anak sangat perlu pendampingan di era kemudahan akses informasi ini.

Memilah hal positif dan negatif
Menurut Indri, tanpa pendampingan dan interaksi dengan orangtua, anak cenderung menerima informasi negatif sebagai sesuatu yang wajar. Anak juga akan menganggap wajar bila ia menerapkan hal negatif yang dipahaminya tersebut kepada orang lain.

“Interaksi dan pendampingan yang minim mengakibatkan anak tidak mendapat pemahaman yang baik tentang norma dan berbagai hal positif lain, termasuk pengendalian diri. Akibatnya saat beranjak dewasa anak hanya berfikir seputar dirinya, tanpa memikirkan dampak perbuatannya pada orang lain,” kata Indri.

Berkaca dari kasus Ade Sara, Indri menyarankan orangtua sedapat mungkin mendampingi masa tumbuh kembang anak-anaknya. Pendampingan ini terus berlangsung hingga remaja saat anak memerlukan teman diskusi.

Orangtua dan anak yang sering berdiskusi berdampak pada timbulnya pemahaman dalam diri anak mengenai nilai positif. Lewat komunikasi yang baik, anak akan menanamkan nilai positif tersebut yang berdampak pada pembentukan karakternya.

Belajar berkomunikasi yang baik
Pendampingan orangtua juga diperlukan anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini termasuk cara berbicara, berkomunikasi, dan menyampaikan ketidaksukaan. Cara mengekspresikan diri sangat penting supaya anak tidak menyebabkan orang lain tersinggung.

Cara berkomunikasi ini sangat penting apalagi sekarang tak perlu bertemu wajah untuk berbicara. Penggunaan kata harus diatur sebaik mungkin sehingga anak bisa mengekspresikan dan membaca perasaan orang lain, terutama dalam berbagai media sosial. Anak juga harus bisa mengendalikan diri dalam forum maya seperti itu.

Menyelesaikan masalah lebih objektif
Hal lain yang bisa diperoleh dari pendampingan adalah kemampuan anak memandang masalah secara objektif ketika dewasa. Dengan penanaman karakter dan norma yang kuat, anak akan berusaha menghadapi berbagai masalah dengan pikiran jernih ketika dewasa. Anak akan terbiasa fokus mencari jalan keluar, menemukan penyelesaian masalah yang tidak semata mengumbar emosi.

Dengan mengetahui pentingnya pendampingan, Indri berharap orangtua tidak lagi meremehkan interaksi dengan anak. Bagaimanapun orangtua harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak terutama dalam menanggapi berbagai informasi yang beredar.

Pengendalian diri
Kasus-kasus penganiayaan remaja dan anak  membuktikan rendahnya kontrol diri pada remaja akibat minimnya pendampingan dan interaksi orangtua.

Kalau dilihat dari caranya melakukan pembunuhan, pelaku kemungkinan hanya ingin membalas dendam. Namun, di tengah jalan, emosi memuncak dan terjadi hal yang di luar perkiraan. Seandainya kontrol diri lebih baik maka pembunuhan mungkin bisa dihindari.

Kondisi Pertengkaran Orangtua Akan Melukai Emosi Anak

Baik kebiasaan berteriak, pintu yang dibanting, sampai aksi saling mendiamkan, yang kerap mewarnai pertengkaran pasangan rumah tangga ternyata bisa melukai emosi anak dan berdampak jangka panjang.

1255

Kondisi anak-anak usia balita yang tinggal dengan kedua orangtua yang sering terlibat percekcokan akan tumbuh menjadi anak yang secara emosional tidak aman sehingga mereka rentan depresi, menderita kecemasan, dan mengalami gangguan perilaku di usia sekolah dasar. Perkembangan konsep diri juga bisa terganggu.

Beberapa hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development membuktikan hal tersebut, yang dilakukan terhadap 235 orang dari keluarga kelas menengah di beberapa wilayah di Amerika Serikat. Responden diwawancara mengenai pertengkaran orangtua ketika mereka masih bersekolah di TK. Kemudian 7 tahun kemudian mereka diwawancara kembali.

Pendapat anak-anak tersebut, ketika mereka masih duduk di bangku TK dan menyaksikan orangtua sering bertengkar, mereka merasa tidak aman dan kurang terlindungi. Mereka juga mengaku merasa sengsara dengan pertengkaran itu. Sebagian besar anak yang orangtuanya tidak akur itu juga cenderung lebih agresif dan mudah marah.

Yang menarik, ternyata tidak semua konflik rumah tangga itu menyebabkan masalah pada anak. Jika orangtua bisa berkonflik secara dewasa, mampu menahan diri untuk tidak saling berteriak atau melakukan aksi kekerasan, pengaruh pertengkaran itu tidak negatif.

Masalah yang sering terjadi setiap hari, bila orangtua bisa bekerjasama menyelesaikannya serta menampilkan emosi yang positif saat berkonflik, hasilnya justru positif bagi anak.

Dengan kata lain, perbedaan pendapat antar suami istri yang bisa diselesaikan secara baik justru akan mengubah cara pandang anak terhadap suatu konflik.

Ditambahkan lagi oleh para ahli, untuk membantu anak memiliki kematangan emosi yang baik, kuncinya justru bukan membesarkan mereka dalam keluarga yang steril dari konflik. Orangtua seharusnya mampu memberi contoh pada anak bagaimana mengendalikan emosi untuk “bertengkar” secara adil dan menyelesaikan konflik dengan dewasa.

Bertengkar adalah hal yang normal dalam rumah tangga. Tapi orangtua harus sadar bahwa anak-anak mereka melihat dan mendengarkan !

RAHASIA DI BALIK OTAK ANAK WANITA

Terdapat perbedaan struktur antara otak anak laki-laki dan wanita, sehingga sangat berperan besar pengaruhnya pada pola belajar dan kerja otak mereka masing-masing, meskipun sebetulnya perbedaan itu tidak berlaku secata mutlak pada semua kasus.

Demikian dikatakan oleh Michael Gurian dalam bukunya berjudul Boys and Girls Learn Differently!: A Guide for Teachers and Parents. Dia menjelaskan, berdasarkan pengamatannya dari positron emission tomography (PET) dan magnetic resonance imaging (MRI) yang mengurai struktur otak dengan sangat detail, otak keduanya memiliki sistem belajar yang berbeda satu sama lain.

Gurian lalu membuka tabir perbedaan tersebut berdasarkan pengamatannya. Dan, fokus pertama yang menjadi perhatiannya adalah otak anak wanita yang penuh rahasia. Beberapa rahasia di balik otak anak wanita menurutnya antara lain:

Corpus callosum atau penghubung jaringan antar bagian otak pada wanita rata-rata lebih besar hingga 25 % pada saat akil balig. Ini memungkinkan terjadikan komunikasi saling-silang dalam otak yang membuat mereka kerap berkomunikasi sendiri.

– Memiliki konektor lebih kuat dalam lobes atau salah satu bagian dari otak. Manfaat konektor ini memungkinkan seorang anak wanita menyimpan memori sensualitas lebih detil dan punya kemampuan mendengar dan membedakan nada suara dengan lebih baik. Tak heran, mereka lebih terampil dalam mengerjakan tugas-tugas tertulis.

– Memiliki hippocampus atau area penyimpan memori dalam otak yang lebih besar. Ini sangat menguntungkan bagi kemampuan belajar anak wanita, terutama untuk pelajaran bahasa.

– Selain lebih aktif, prefrontal cortex atau bagian otak lain dari seorang anak wanita juga berkembang lebih awal. Hal tersebut cenderung menjadikan anak wanita tidak impulsif.

– Anak wanita lebih mudah mengatur emosi dan bicaranya, karena mereka lebih sering menggunakan area korteks.

Berdasarkan pengamatannya dari beberapa rahasia di balik otak anak wanita itu, Gurian menyimpulkan, tentu sangat bisa dimengerti jika anak wanita lebih cakap membaca dan menulis. Hal itu bisa dibuktikan pada anak wanita sejak mereka balita dan sepanjang usianya dewasa.

Membaca dan menulis tidak akan menyulitkan seorang anak wanita. Mereka bisa duduk tenang lebih lama, mendengar dan mengenali nada suara, serta berbicara dalam hati.

Di sisi lain, dengan volume darah yang mengalir ke otak wanita lebih banyak 15 persen dari otak laki-laki, hal itu sangat mendorong otak mereka dengam mudah melalui proses-proses stimulasi, membaca dan menulis, yang melibatkan tekstur, nada suara, serta aktivitas kejiwaannya dengan baik.

 

RAHASIA OTAK ANAK LAKI-LAKI

Bila kita mencoba membuat perbedaan antara anak laki-laki dan wanita menurut struktur dan fungsi otaknya, itu bukan berarti kita mengklasifikasikan mereka dari sudut jender semata. Tetapi, menyadarkan tentang perbedaan alami keduanya untuk memudahkan Anda mencari formula yang tepat memberikan pelajaran dan pengajaran pada anak-anak Anda.

Terdapat beberapa rahasia di balik otak anak wanita, Michael Gurian menyimpulkan, bahwa sangat bisa dimengerti jika anak wanita lebih cakap dalam urusan membaca dan menulis. Nah, bagaimana dengan anak laki-laki?

Gurian, dalam bukunya berjudul Boys and Girls Learn Differently!: A Guide for Teachers and Parents, menuturkan bahwa perbedaan struktur otak antara anak laki-laki dan wanita sangat berperan besar memengaruhi pola belajar dan kerja otak mereka masing-masing. Namun begitu, sebetulnya perbedaan itu tidak berlaku secata mutlak pada semua kasus dan tidak ada yang buruk dari semua perbedaan itu.

Seperti halnya otak anak wanita, otak anak laki-laki pun punya misteri. Gurian bilang, karena area korteksnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai fungsi spesial mekanis, anak laki-laki akan lebih suka menggerakkan obyek, mulai dari bola, mainan, atau bahkan tangan dan kakinya sendiri.

Otak pada anak laki-laki tidak hanya memiliki lebih sedikit serotonin, melainkan juga oxytocin atau zat pengikat. Zat inilah yang menurut Gurian menyebabkan anak laki-laki bersikap lebih impulsif, yang jelas-jelas berlawanan dengan sikap wanita, yang bisa duduk tenang curhat pada sahabatnya.

Gurian menyimpulkan, seorang anak wanita tampil lebih baik dalam tugas ganda atau multitasking dan yang bersifat bertransisi. Sebaliknya, anak laki-laki tidak, karena otak mereka dibentuk untuk melakukan pembaharuan dan reorientasi setelah sebelumnya harus melewati tahap istirahat (rest).

“Inilah perbedaan nyata yang mudah sekali terlihat. Hal itu karena aliran darah ke dalam otak anak laki-laki bukan saja lebih sedikit, tetapi juga didesain tersegmentasi,” kata dia.

Tidak heran, kata Gurian, anak laki-laki mudah sekali mengantuk. Pada anak wanita, tahap pembaharuan tidak perlu harus melewati istirahat, sehingga mereka jarang sekali mengantuk.

Gurian menambahkan, otak anak laki-laki cenderung lebih cocok mengenali simbol, bentuk-bentuk abstraksi, diagram, gambar dan obyek bergerak ketimbang kata-kata yang monoton. Bagi seorang anak laki-laki, metode ceramah akan diartikannya sebagai waktu istirahat.

Untuk itu, Gurian menyimpulkan, misteri-misteri yang ada di balik rahasia otak anak laki-laki tersebut akan menyebabkan mereka:

-lebih unggul dalam Matematika dan Fisika, terutama ketika subyek itu diajarkan secara abstrak di depan kelas

-lebih tertarik pada permainan-permainan (games) ketimbang wanita

-mudah terlibat masalah karena sifatnya yang impulsif

-mudah atau cepat bosan

-tak mampu menjadi pendengar yang baik

-tidak telaten memenuhi tugas

-kurang cocok belajar secara verbal yang selama ini kerap terjadi di kelas-kelas (sekolah) konvensional yang lebih mengedepankan pola belajar satu arah

 

 


APAKAH KECERDASAN ANAK LAKI-LAKI DI ATAS ANAK PEREMPUAN ?

Bila dilihat secara fisiologis memang terdapat perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita. Selain lebih besar, otak anak laki-laki berkembang lebih cepat daripada otak anak wanita. Apakah itu berarti anak laki-laki lebih cerdas? Ternyata belum tentu.

Banyak pakar memberikan penjelasan, salah satunya dr Dwi Putro Widodo, SpA, konsultan ahli saraf anak dari RSCM, Jakarta, perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita tidak berkaitan dengan kecerdasan. “Ini bukan masalah fisik otak, tetapi lebih kepada lingkungan, dalam hal ini nutrisi dan stimulasi,” katanya.

Masing – masing jenis kelamin memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya, anak laki-laki motoriknya berkembang lebih cepat sehingga lebih gesit dan cenderung menyukai hal-hal yang bersifat teknik. “Anak wanita biasanya perkembangan pusat komunikasi di otaknya lebih bagus,” katanya.

Kinerja otak dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah produksi hormon, seperti progesteron, estrogen, dan testosteron. Berbagai hormon ini memengaruhi kinerja otak dalam menghadapi berbagai situasi.

Dalam menentukan kecerdasan anak, menurut dr Dwi Putro, yang terpenting adalah faktor lingkungan. “Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada hasil akhirnya,” katanya. Ia menambahkan, seorang anak profesor pun, bila tidak mendapat stimulasi yang optimal, akan tumbuh menjadi anak yang biasa-biasa saja.

Bagaimana cara memaksimalkan kecerdasan anak? Orangtua wajib menyediakan nutrisi yang mendukung kesehatan dan otaknya. Anak yang dilimpahi kasih sayang dan mendapat rangsangan yang cukup juga akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. “Berikan stimulasi yang merangsang semua indera, yakni penglihatan, pendengaran, perabaan, dan berkreasi anak. Anak laki-laki dan wanita akan sama cerdasnya,” kata dr Dwi Putro

 

Secara fisiologis memang terdapat perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita. Selain lebih besar, otak anak laki-laki berkembang lebih cepat daripada otak anak wanita. Apakah itu berarti anak laki-laki lebih cerdas? Ternyata belum tentu.

Menurut penjelasan dr Dwi Putro Widodo, SpA, konsultan ahli saraf anak dari RSCM, Jakarta, perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita tidak berkaitan dengan kecerdasan. “Ini bukan masalah fisik otak, tetapi lebih kepada lingkungan, dalam hal ini nutrisi dan stimulasi,” katanya.

Setiap jenis kelamin memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya, anak laki-laki motoriknya berkembang lebih cepat sehingga lebih gesit dan cenderung menyukai hal-hal yang bersifat teknik. “Anak wanita biasanya perkembangan pusat komunikasi di otaknya lebih bagus,” katanya.

Kinerja otak dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah produksi hormon, seperti progesteron, estrogen, dan testosteron. Berbagai hormon ini memengaruhi kinerja otak dalam menghadapi berbagai situasi.

Dalam menentukan kecerdasan anak, menurut dr Dwi Putro, yang terpenting adalah faktor lingkungan. “Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada hasil akhirnya,” katanya. Ia menambahkan, seorang anak profesor pun, bila tidak mendapat stimulasi yang optimal, akan tumbuh menjadi anak yang biasa-biasa saja.

Bagaimana cara memaksimalkan kecerdasan anak? Orangtua wajib menyediakan nutrisi yang mendukung kesehatan dan otaknya. Anak yang dilimpahi kasih sayang dan mendapat rangsangan yang cukup juga akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. “Berikan stimulasi yang merangsang semua indera, yakni penglihatan, pendengaran, perabaan, dan berkreasi anak. Anak laki-laki dan wanita akan sama cerdasnya,” kata dr Dwi Putro

Secara fisiologis memang terdapat perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita. Selain lebih besar, otak anak laki-laki berkembang lebih cepat daripada otak anak wanita. Apakah itu berarti anak laki-laki lebih cerdas? Ternyata belum tentu.

Menurut penjelasan dr Dwi Putro Widodo, SpA, konsultan ahli saraf anak dari RSCM, Jakarta, perbedaan struktur otak anak laki-laki dan wanita tidak berkaitan dengan kecerdasan. “Ini bukan masalah fisik otak, tetapi lebih kepada lingkungan, dalam hal ini nutrisi dan stimulasi,” katanya.

Setiap jenis kelamin memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya, anak laki-laki motoriknya berkembang lebih cepat sehingga lebih gesit dan cenderung menyukai hal-hal yang bersifat teknik. “Anak wanita biasanya perkembangan pusat komunikasi di otaknya lebih bagus,” katanya.

Kinerja otak dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah produksi hormon, seperti progesteron, estrogen, dan testosteron. Berbagai hormon ini memengaruhi kinerja otak dalam menghadapi berbagai situasi.

Dalam menentukan kecerdasan anak, menurut dr Dwi Putro, yang terpenting adalah faktor lingkungan. “Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada hasil akhirnya,” katanya. Ia menambahkan, seorang anak profesor pun, bila tidak mendapat stimulasi yang optimal, akan tumbuh menjadi anak yang biasa-biasa saja.

Bagaimana cara memaksimalkan kecerdasan anak? Orangtua wajib menyediakan nutrisi yang mendukung kesehatan dan otaknya. Anak yang dilimpahi kasih sayang dan mendapat rangsangan yang cukup juga akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. “Berikan stimulasi yang merangsang semua indera, yakni penglihatan, pendengaran, perabaan, dan berkreasi anak. Anak laki-laki dan wanita akan sama cerdasnya,” kata dr Dwi Putro