Kecanduan “Gadget” Menimbulkan Efek Bosan Pada Anak

Dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini, orang tua perlu menjaga anak-anak agar terhindar dari dampak negatif, namun juga tetap mendapat dampak positifnya.

145795_anak-makan-sayur_663_382

Ketertarikan terhadap pesatnya tekhnologi inilah yang membuat kehidupan nyata menjadi membosankan bagi anak-anak

Menurut psikolog senior, para orang tua perlu membiarkan anak untuk tetap melek teknologi, tetapi tidak serta merta membebaskan mereka dalam penggunaan teknologi. Salah satu contoh sederhana adalah penggunaan gadget seperti ponsel, tablet ataupun laptop.

Orang tua tetap perlu membuat pembatasan pada penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, penggunaan yang tidak terkendali akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi anak.

“Ibarat ikan, dulu kita hidup di air tawar. Seiring perkembangan zaman, saat ini kita hidup di air payau. Kita tidak bisa memaksakan anak untuk menjalani gaya hidup di air tawar, karena mereka sudah dilahirkan di air payau,” .

Artinya, para orang tua perlu membiarkan anak untuk tetap akrab dengan teknologi, tetap dengan menerapkan peraturan dan pembatasan. Karena jika tidak, yang akan terjadi adalah anak-anak akan lebih tertarik dengan gadget dan tidak tertarik dengan kehidupan nyata.

Layar gadget yang berkedip dengan cepat dapat menstimulasi otak anak-anak untuk merasa tertarik. Ketertarikan inilah yang membuat kehidupan nyata menjadi membosankan bagi anak-anak.

Oleh karenanya, perlu adanya pembatasan oleh para orang tua dalam penggunaan gadget. “Beri pengertian pada anak Anda bahwa fungsi gadget adalah untuk berkomunikasi sehingga penggunaannya perlu dibatasi,”

Hal ini juga berlaku bagi orang tua, karena orang tua adalah role model bagi anak. “Jangan sampai orang tua melarang anak menggunakan gadget namun tidak membatasi gadget untuk diri mereka sendiri.

Namun terkadang, ada pula orang tua yang malah mengalihkan perhatian anak dengan gadget karena tak ingin anaknya bergerak terlalu aktif. Padahal bergerak aktif adalah salah satu proses alamiah anak dan tak perlu dialihkan dengan penggunaan gadget.

“Anak-anak memang tipikalnya tidak bisa diam, biarkan saja, nanti juga ada masanya mereka tidak terlalu aktif. Malah begitu yang bagus, jangan dilarang, apalagi dialihkan dengan gadget,”.

ID_KESEHATANKECANTIKAN_SUPLEMEN_SET1_468X60_120620

Advertisements

Hendaknya Jangan Bertengkar di Depan Anak !

Apabila sering terjadi konflik pada orangtua akan berdampak buruk pada gangguan psikologis sang buah hati. Padahal, orangtua seharusnya memberikan contoh kepada anak-anak mereka bagaimana bersikap baik.

Berapa pun usia anak Anda, sebenarnya anak sudah dapat merasakan efek negatif dan ekspresi wajah ketika perselisihan terjadi. Bukan itu saja, anak mungkin akan belajar menggunakan apa yang telah didengar dari pertengkaran tersebut dan mulai memanggil orang lain dengan kata-kata kasar.

pertengkaran

Dampak negatif lainnya, anak akan menjadi pasif atau agresif, kurang keyakinan untuk bersosialisasi, berkelakuan buruk, sering kencing malam, menyendiri, dan sedih.

Beberapa Konsultan psikiatri menuturkan bahwa anak-anak umumnya akan merasa sangat stres jika terus hidup dalam kondisi lingkungan yang tegang. Padahal, stres negatif tidak sepatutnya menjadi bagian dari kehidupan anak karena akan memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Perselisihan paham dengan pasangan adalah sesuatu yang normal. Jika anak Anda menyaksikan pertengkaran yang konstruktif (di mana Anda dan pasangan sama-sama menyelesaikan masalah sambil menunjukkan rasa sayang sepanjang perbincangan), maka anak Anda juga akan belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkompromi.

Berikut adalah beberapa saran bagaimana Anda dapat mengontrol pertengkaran dan memastikan anak Anda tidak terpengaruh secara negatif.

1) Rasa hormat

Kita harus selalu ingat bahwa kita perlu selalu menunjukkan rasa hormat terhadap pasangan kita. Dengar apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda dan berusaha menahan diri untuk tidak memanggil pasangan dengan nama yang kurang baik, menggunakan bahasa vulgar, meninggikan suara atau mengatakan sesuatu yang akan menyebabkan Anda menyesal nanti.

2) Fokus pada penyelesaian

Ingatlah bahwa Anda sedang mencoba mencari penyelesaian. Anda tidak perlu membuktikan bahwa pasangan Anda yang salah dan Anda yang benar. Bila perasaan sudah tenang, luangkanlah waktu untuk duduk bersama dan bicara secara baik-baik.

3) Jangan berpihak

Jangan libatkan anak Anda dalam konflik di antara Anda berdua. Meminta anak Anda untuk berpihak antara Anda dan pasangan adalah sesuatu yang tidak adil dan akan mengakibatkan anak Anda merasa sangat sedih.

4) Belajar minta maaf

Mohon maaf kepada pasangan Anda di hadapan anak Anda setelah bertindak secara keterlaluan. Biarkan anak Anda melihat bahwa Anda bertanggung jawab terhadap kata-kata Anda sendiri.

5) Berbincang dengan Anak Anda

Anak mungkin menganggap dirinya sebagai pencetus konflik terkait beberapa pertengkaran Anda dan pasangan. Anak juga mungkin menganggap bahwa Anda berdua akan berpisah. Oleh karena itu, cobalah berdiskusi dengan anak Anda setelah “bentrokan” usai. Jelaskan kepadanya bahwa mama dan papa masih saling menyayangi walaupun terkadang bertentangan pendapat.

Ingatlah bahwa Anda adalah contoh bagi anak Anda. Berusahalah untuk selalu menjadi contoh yang baik kepada anak dengan mencoba mengontrol emosi dan amarah. Jika pertengkaran tidak dapat terelakan, pastikan anak Anda tidak mendengarnya.

Anak Belajar Norma Etika Dari Interaksi Orangtua

Kondisi anak yang selalu kebanjiran informasi akan lebih mudah terpapar hal yang bersifat negatif. Tanpa pendampingan orangtua, kondisi ini mengakibatkan anak akan kesulitan memilah informasi. Karenanya, peran orangtua untuk berinteraksi dengan anak dan mendampinginya menjadi penting.

anakkkkkkkk

Beberapa pakar mengungkapkan bahawa minimnya pendampingan orangtua berdampak pada rendahnya pengendalian diri anak. Faktor ini berkaitan dengan terjadinya kasus pembunuhan dan penganiayaan di kalangan anak dan remaja.

Interaksi yang terbatas menyebabkan anak hanya mendapat sedikit pendampingan orangtua, padahal anak sangat perlu pendampingan di era kemudahan akses informasi ini.

Memilah hal positif dan negatif
Menurut Indri, tanpa pendampingan dan interaksi dengan orangtua, anak cenderung menerima informasi negatif sebagai sesuatu yang wajar. Anak juga akan menganggap wajar bila ia menerapkan hal negatif yang dipahaminya tersebut kepada orang lain.

“Interaksi dan pendampingan yang minim mengakibatkan anak tidak mendapat pemahaman yang baik tentang norma dan berbagai hal positif lain, termasuk pengendalian diri. Akibatnya saat beranjak dewasa anak hanya berfikir seputar dirinya, tanpa memikirkan dampak perbuatannya pada orang lain,” kata Indri.

Berkaca dari kasus Ade Sara, Indri menyarankan orangtua sedapat mungkin mendampingi masa tumbuh kembang anak-anaknya. Pendampingan ini terus berlangsung hingga remaja saat anak memerlukan teman diskusi.

Orangtua dan anak yang sering berdiskusi berdampak pada timbulnya pemahaman dalam diri anak mengenai nilai positif. Lewat komunikasi yang baik, anak akan menanamkan nilai positif tersebut yang berdampak pada pembentukan karakternya.

Belajar berkomunikasi yang baik
Pendampingan orangtua juga diperlukan anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini termasuk cara berbicara, berkomunikasi, dan menyampaikan ketidaksukaan. Cara mengekspresikan diri sangat penting supaya anak tidak menyebabkan orang lain tersinggung.

Cara berkomunikasi ini sangat penting apalagi sekarang tak perlu bertemu wajah untuk berbicara. Penggunaan kata harus diatur sebaik mungkin sehingga anak bisa mengekspresikan dan membaca perasaan orang lain, terutama dalam berbagai media sosial. Anak juga harus bisa mengendalikan diri dalam forum maya seperti itu.

Menyelesaikan masalah lebih objektif
Hal lain yang bisa diperoleh dari pendampingan adalah kemampuan anak memandang masalah secara objektif ketika dewasa. Dengan penanaman karakter dan norma yang kuat, anak akan berusaha menghadapi berbagai masalah dengan pikiran jernih ketika dewasa. Anak akan terbiasa fokus mencari jalan keluar, menemukan penyelesaian masalah yang tidak semata mengumbar emosi.

Dengan mengetahui pentingnya pendampingan, Indri berharap orangtua tidak lagi meremehkan interaksi dengan anak. Bagaimanapun orangtua harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak terutama dalam menanggapi berbagai informasi yang beredar.

Pengendalian diri
Kasus-kasus penganiayaan remaja dan anak  membuktikan rendahnya kontrol diri pada remaja akibat minimnya pendampingan dan interaksi orangtua.

Kalau dilihat dari caranya melakukan pembunuhan, pelaku kemungkinan hanya ingin membalas dendam. Namun, di tengah jalan, emosi memuncak dan terjadi hal yang di luar perkiraan. Seandainya kontrol diri lebih baik maka pembunuhan mungkin bisa dihindari.

ANTARA IBU DAN ANAK TAK BISA JADI “BEST FRIEND”

Ketika anda masih kecil, Anda mungkin begitu memuja ibu Anda. Ibu tampak bagaikan malaikat, ia mengasuh anak-anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga, namun juga bekerja di kantor untuk menambah penghasilan bagi keluarga. Ibu menjadi penasihat setia yang akan mendengarkan cerita-cerita Anda mengenai cowok-cowok ganteng di sekolah. Namun ketika dewasa, Anda mungkin telah membentuk kepribadian yang utuh, dan Anda tak membutuhkan lagi masukan-masukan dari ibu. Hal ini lalu kerap menimbulkan konflik ibu dan anak wanitanya.

Karena itu, ketika ibu dan putrinya bisa menjalin hubungan yang erat hingga sang anak menjadi dewasa, bukankah hal ini patut disyukuri? Ternyata tidak demikian !  Apa yang menjadi dasar pernyataan ini ? Mari kita bedah isi pikiran tersebut !

Apa batasan antara “dekat” dan “terlalu dekat”?
Hubungan akan terjalin terlalu dekat, ketika anak wanita mengandalkan sang ibu untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dapat dilakukannya sendiri, demikian menurut Gordon. Ibu yang selalu menyelamatkan anak wanitanya, sebenarnya justru akan mengurangi keyakinan diri sang anak. Para ibu umumnya selalu berjuang untuk mengetahui kapan harus berkata “ya” dan kapan berkata “tidak”. Mereka berjuang untuk menjadi ibu yang murah hati dan selalu mencintai, dan memutuskan kapan harus menarik batas antara membiarkan si anak menjadi dirinya sendiri. Kemudian ada satu tipe ibu yang terlalu bergantung pada anaknya, sedangkan sang anak mulai merasa bersalah dan merasa terbebani.

Mengapa kecenderungan untuk terlalu dekat ini makin meningkat saat ini?
“Menurut kami, ibu dan putrinya punya banyak kesamaan. Ibu bisa memiliki jiwa yang muda. Mereka bisa saling menikmati musik yang sama. Punya minat yang sama. Dan karena teknologi, ibu dan putrinya dapat saling mengakses dengan mudah, hal yang tidak kita miliki dengan orangtua kita dulu,” ujar Shaffer. Hal ini bagaikan tali pusat yang menghubungkan ibu dan anaknya dengan cara yang kuat.

Salah satu hal yang merupakan pergeseran sosiologis yang penting, wanita muda akan lebih lama menjadi lajang. Hal ini tentu akan memberikan kesempatan bagi ibu untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan sang anak yang telah dewasa, yang tidak dapat Anda lakukan jika sang anak telah menikah. Ikatan ini akan terasa berbeda ketika ada orang lain yang terlibat. Menantu pria mungkin tidak akan senang jika ibu mertuanya terlalu sering datang berkunjung ke rumah.

Mengapa ibu dan anak wanitanya tidak bisa menjadi “best friends”?
Menurut Shaffer, hubungan ibu dan anak wanitanya tak pernah dalam satu level. Kedua belah pihak tak pernah berada dalam satu tahap kehidupan yang sama pada saat yang sama. Ibu akan selalu menjadi pengasuh yang emosional. Anda mungkin pernah ingat ibu mengatakan, “Ibu selalu tahu apa yang kamu lakukan.” Mereka bisa saja menjadi teman, namun bukan “teman terbaik” karena pertemanan semacam ini membutuhkan sikap timbal-balik. Sikap seperti ini memerlukan kontak secara terus-menerus, misalnya, Anda tumbuh besar bersama, Anda kuliah di tempat yang sama dengan sahabat Anda, bahkan Anda mungkin menyekolahkan anak di tempat yang sama. Itulah yang menciptakan pertemanan yang baik.

Jika ibu dan anak wanita menjalin hubungan yang terlalu dekat, apa yang perlu dilakukan?
Anak wanita harus mampu menjelaskan para ibu apa yang mereka perlukan, dan apa yang tidak mereka perlukan. Akan sulit bagi sang ibu untuk mulai menatap sang anak sebagai orang dewasa. Sebagian ibu masih sering menyampaikan saran-saran yang mungkin kurang berkenan untuk anaknya. Untuk itu, para ibu sebaiknya mulai belajar untuk menjadi pendengar yang aktif, daripada meminta putrinya untuk melakukan sesuatu karena ibu mengira selalu tahu apa yang terbaik bagi anak wanitanya. “Para ibu itu masih ingin melindungi anak wanitanya. Pada satu titik, anak wanita harus mampu menempuh jalan hidupnya sendiri. Kita ingin berjalan bersama, tetapi kita tidak perlu mengontrolnya,” jelas Gordon.

 

 

KENAPA ANAK SUSAH DILARANG ?

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

 

 

APAKAH AUTISME?

Gejala Autisme adalah gangguan perkembangan pada otak dan perilaku yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala – gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).

Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang.

Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1

KETIDAK JUJURAN PADA ANAK

Anak kecil umumnya memiliki keinginan alamiah untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan. Bagaimana kalau suka mengambil milik orang lain? Jangan biarkan, akan tetapi sebelum kita marah pada kelakuan anak kita, kita wajib introspeksi sebagai ayah dan ibu nya, apakah tingkah laku kita yang menjadi penyebabnya? .

Bagi anak prasekolah mengambil suatu benda tanpa sepengetahuan orang lain dianggap sebagai perkembangan perilaku normal. Namun, pada anak usia sekolah, perbuatan itu bisa termasuk mencuri.

Apa penyebabnya?
Ketidakjujuran yang dilakukan orangtua di rumah bisa mendorong kecenderungan mencuri pada anak-anak. Jika orang tua mencuri, kemungkinan anak akan melakukan perbuatan serupa. Teladan buruk dari teman-teman, balas dendam, kepribadian antisosial, kemiskinan dan sebagainya, merupakan penyebab utama seorang anak mencuri.
Kalau orang tua tidak memenuhi kebutuhan anak, anak akan mencuri. Mencuri biasanya dimulai di rumah, terutama dimulai dengan mencuri dari ibu dan ayah. Sekali si anak berhasil melakukannya, ia merasa terdorong untuk mengulanginya terus. Anak-anak dari keluarga antisosial dan keluarga miskin memiliki kemungkinan paling besar untuk mencuri.

Kalau seorang anak mencuri, ia harus diminta untuk mengembalikan benda itu kepada pemiliknya, betapa pun memalukan dan sulitnya situasi. Cobalah mencari tahu apa penyebab anak sampai mencuri dan atasilah penyebab itu. Orangtua juga harus menahan diri untuk tidak mencuri dan untuk berperilaku baik agar menjadi panutan anaknya.
Konflik dalam keluarga, terutama antara orangtua dan anak, harus diselesaikan. Anda harus memenuhi kebutuhan anak yang memang benar-benar diperlukannya. Selain itu, perhatikan juga teman-teman sepergaulannya.