Hendaknya Jangan Bertengkar di Depan Anak !

Apabila sering terjadi konflik pada orangtua akan berdampak buruk pada gangguan psikologis sang buah hati. Padahal, orangtua seharusnya memberikan contoh kepada anak-anak mereka bagaimana bersikap baik.

Berapa pun usia anak Anda, sebenarnya anak sudah dapat merasakan efek negatif dan ekspresi wajah ketika perselisihan terjadi. Bukan itu saja, anak mungkin akan belajar menggunakan apa yang telah didengar dari pertengkaran tersebut dan mulai memanggil orang lain dengan kata-kata kasar.

pertengkaran

Dampak negatif lainnya, anak akan menjadi pasif atau agresif, kurang keyakinan untuk bersosialisasi, berkelakuan buruk, sering kencing malam, menyendiri, dan sedih.

Beberapa Konsultan psikiatri menuturkan bahwa anak-anak umumnya akan merasa sangat stres jika terus hidup dalam kondisi lingkungan yang tegang. Padahal, stres negatif tidak sepatutnya menjadi bagian dari kehidupan anak karena akan memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Perselisihan paham dengan pasangan adalah sesuatu yang normal. Jika anak Anda menyaksikan pertengkaran yang konstruktif (di mana Anda dan pasangan sama-sama menyelesaikan masalah sambil menunjukkan rasa sayang sepanjang perbincangan), maka anak Anda juga akan belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkompromi.

Berikut adalah beberapa saran bagaimana Anda dapat mengontrol pertengkaran dan memastikan anak Anda tidak terpengaruh secara negatif.

1) Rasa hormat

Kita harus selalu ingat bahwa kita perlu selalu menunjukkan rasa hormat terhadap pasangan kita. Dengar apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda dan berusaha menahan diri untuk tidak memanggil pasangan dengan nama yang kurang baik, menggunakan bahasa vulgar, meninggikan suara atau mengatakan sesuatu yang akan menyebabkan Anda menyesal nanti.

2) Fokus pada penyelesaian

Ingatlah bahwa Anda sedang mencoba mencari penyelesaian. Anda tidak perlu membuktikan bahwa pasangan Anda yang salah dan Anda yang benar. Bila perasaan sudah tenang, luangkanlah waktu untuk duduk bersama dan bicara secara baik-baik.

3) Jangan berpihak

Jangan libatkan anak Anda dalam konflik di antara Anda berdua. Meminta anak Anda untuk berpihak antara Anda dan pasangan adalah sesuatu yang tidak adil dan akan mengakibatkan anak Anda merasa sangat sedih.

4) Belajar minta maaf

Mohon maaf kepada pasangan Anda di hadapan anak Anda setelah bertindak secara keterlaluan. Biarkan anak Anda melihat bahwa Anda bertanggung jawab terhadap kata-kata Anda sendiri.

5) Berbincang dengan Anak Anda

Anak mungkin menganggap dirinya sebagai pencetus konflik terkait beberapa pertengkaran Anda dan pasangan. Anak juga mungkin menganggap bahwa Anda berdua akan berpisah. Oleh karena itu, cobalah berdiskusi dengan anak Anda setelah “bentrokan” usai. Jelaskan kepadanya bahwa mama dan papa masih saling menyayangi walaupun terkadang bertentangan pendapat.

Ingatlah bahwa Anda adalah contoh bagi anak Anda. Berusahalah untuk selalu menjadi contoh yang baik kepada anak dengan mencoba mengontrol emosi dan amarah. Jika pertengkaran tidak dapat terelakan, pastikan anak Anda tidak mendengarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s