PUBERTAS ANAK WANITA MAKIN CEPAT

Pasti anda sering mendengar, anak – anak wanita usia 9-10 tahun sudah mempunyai pacar. Anda mungkin hanya tersenyum mendengarnya, karena konsep berpacaran bagi mereka hanyalah ngobrol dan jalan-jalan bareng.

Tetapi anda sebagai orang tua wajib untuk mempersiapkan diri untuk hal lain, karena anak-anak seusia itu kini sudah memasuki masa pubertas. Penelitian yang melibatkan 1.000 anak wanita menunjukkan bahwa pertumbuhan payudara mereka kini sudah dimulai rata-rata 1 tahun lebih cepat daripada 20 tahun lalu, yaitu sekitar usia 9 tahun 10 bulan. Pada abad 19, anak wanita memasuki masa puber pada usia rata-rata 15 tahun.

Masa pubertas yang hadir lebih cepat ini memberikan pengaruh serius pada kesehatan fisik dan emosional anak-anak wanita. Ada kekhawatiran bahwa masa puber yang lebih cepat akan menempatkan anak-anak pada risiko kanker payudara dan penyakit jantung yang lebih tinggi, karena meningkatnya paparan estrogen.

Dr Anders Juul, dari Copenhagen University Hospital, Denmark, yang memimpin penelitian ini, mengatakan bahwa jika anak wanita menjadi dewasa lebih cepat, mereka akan menghadapi masalah remaja pada usia awal, dan cenderung lebih cepat terkena penyakit kelak.

“Kita patut khawatir mengenai hal ini, tak peduli alasan apapun yang mendasarinya. Ini merupakan tanda yang jelas bahwa sesuatu sedang mempengaruhi anak-anak kita; entah itu junk food, bahan-bahan kimia, atau kurangnya aktivitas fisik,” katanya.

Apa yang kita alami sebagai remaja saja sudah cukup sulit untuk dihadapi, apalagi jika hal itu terjadi pada usia 10 atau 11 tahun, demikian menurut Richard Stanhope, ahli di bidang kelainan hormon. “Anak-anak juga akan menghadapi risiko penganiayaan seksual lebih tinggi, karena sulit bagi orang dewasa untuk memahami atau berperilaku sepantasnya terhadap mereka,” paparnya.

Anak laki-laki pun tak luput dari fenomena ini. Makin banyak anak laki-laki usia 12-13 tahun yang dilaporkan keluar dari kelompok paduan suara di sekolah, karena suara mereka sudah pecah.

 

Advertisements

BATASAN PERSAHABATAN ANTARA IBU DAN ANAK WANITA

Ketika anak wanita anda memasuki remaja, mereka sedang menyongsong masa-masa kehidupan yang baru, yaitu memasuki masa kedewasaan. Dengan  begitu,  anda sebagai ibu akan dituntut lebih cerdas memosisikan diri. Kapan waktunya menjadi teman atau orangtua. Pasalnya, tak mudah membangun keakraban antara sesama wanita. Jika salah mengambil sikap, bersiaplah hubungan beda usia ini menjadi rumit, bahkan bisa saja berkonflik.

Meskipun keakraban bak teman antara ibu dan anak kini semakin menjadi tren, tetapi bersikap terlalu akrab kadang kala membuat posisi ibu sulit untuk menghadapi putrinya. Hierarki antara ibu dan anak wanitanya masih diperlukan agar anak tahu kapan ia bisa menerima masukan ibunya sebagai teman dan kapan harus mematuhi perintah ibunya sebagai orangtua.

Bagaimanapun, kelak anak bisa melihat sosok ibu sebagai teman. Sebuah survei menunjukkan bahwa 71 persen wanita usia 21 hingga 54 tahun menganggap ibunya sebagai teman.

Yang perlu dilakukan ibu masa kini adalah menyeimbangkan peran sebagai orangtua dan teman. Ibu juga perlu bersikap tegas, keras, dan disiplin terhadap anaknya. Bagaimana anak menghargai orangtua, dipengaruhi bagaimana ayah dan ibunya memosisikan diri.

Hubungan hierarki antara ibu dan anak berdampak positif pada penghargaan privasi setiap individu. Anda sebagai wanita dewasa dan juga sebagai ibu memiliki kehidupan pribadi yang berbeda dengan anak wanita Anda.  Begitu pun dengan anak wanita Anda, ia memiliki teman dan perlu bergaul dengan orang lain seusianya untuk membangun kepribadian dan jati dirinya. Adanya hierarki memudahkan orangtua dan anak untuk menjalani kehidupan masing-masing.

Bayangkan jika hubungan ibu-anak terlalu dekat sehingga semua kegiatan selalu dilakukan bersama. Yang terjadi adalah si anak terperangkap dalam kehidupan bersama ibunya dan merasa bersalah jika harus meninggalkan ibunya untuk bergaul bersama anak lain seusianya. Hubungan yang terlalu dekat seperti ini juga membawa pengaruh buruk bagi ibunya. Di saat harusnya ibu bisa melakukan berbagai kegiatan bersama komunitas ibu atau kegiatan positif lain, ia justru terperangkap dalam hubungan “pertemanan” dengan anak wanitanya.

Jika hubungan yang terlalu dekat sudah telanjur terjadi antara ibu dan putrinya, sikap dewasa menjadi solusinya. Anda sebagai ibu, wanita dewasa, sudah semestinya mengambil peran ini. Bersikaplah dewasa, hargai privasi dan kemandirian anak wanita yang menjelang dewasa. Dengan bersikap seperti ini, anak pun akan menghargai orangtuanya, tidak hanya sebagai teman, tetapi juga sebagai ibu.

 

ANTARA IBU DAN ANAK TAK BISA JADI “BEST FRIEND”

Ketika anda masih kecil, Anda mungkin begitu memuja ibu Anda. Ibu tampak bagaikan malaikat, ia mengasuh anak-anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga, namun juga bekerja di kantor untuk menambah penghasilan bagi keluarga. Ibu menjadi penasihat setia yang akan mendengarkan cerita-cerita Anda mengenai cowok-cowok ganteng di sekolah. Namun ketika dewasa, Anda mungkin telah membentuk kepribadian yang utuh, dan Anda tak membutuhkan lagi masukan-masukan dari ibu. Hal ini lalu kerap menimbulkan konflik ibu dan anak wanitanya.

Karena itu, ketika ibu dan putrinya bisa menjalin hubungan yang erat hingga sang anak menjadi dewasa, bukankah hal ini patut disyukuri? Ternyata tidak demikian !  Apa yang menjadi dasar pernyataan ini ? Mari kita bedah isi pikiran tersebut !

Apa batasan antara “dekat” dan “terlalu dekat”?
Hubungan akan terjalin terlalu dekat, ketika anak wanita mengandalkan sang ibu untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dapat dilakukannya sendiri, demikian menurut Gordon. Ibu yang selalu menyelamatkan anak wanitanya, sebenarnya justru akan mengurangi keyakinan diri sang anak. Para ibu umumnya selalu berjuang untuk mengetahui kapan harus berkata “ya” dan kapan berkata “tidak”. Mereka berjuang untuk menjadi ibu yang murah hati dan selalu mencintai, dan memutuskan kapan harus menarik batas antara membiarkan si anak menjadi dirinya sendiri. Kemudian ada satu tipe ibu yang terlalu bergantung pada anaknya, sedangkan sang anak mulai merasa bersalah dan merasa terbebani.

Mengapa kecenderungan untuk terlalu dekat ini makin meningkat saat ini?
“Menurut kami, ibu dan putrinya punya banyak kesamaan. Ibu bisa memiliki jiwa yang muda. Mereka bisa saling menikmati musik yang sama. Punya minat yang sama. Dan karena teknologi, ibu dan putrinya dapat saling mengakses dengan mudah, hal yang tidak kita miliki dengan orangtua kita dulu,” ujar Shaffer. Hal ini bagaikan tali pusat yang menghubungkan ibu dan anaknya dengan cara yang kuat.

Salah satu hal yang merupakan pergeseran sosiologis yang penting, wanita muda akan lebih lama menjadi lajang. Hal ini tentu akan memberikan kesempatan bagi ibu untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan sang anak yang telah dewasa, yang tidak dapat Anda lakukan jika sang anak telah menikah. Ikatan ini akan terasa berbeda ketika ada orang lain yang terlibat. Menantu pria mungkin tidak akan senang jika ibu mertuanya terlalu sering datang berkunjung ke rumah.

Mengapa ibu dan anak wanitanya tidak bisa menjadi “best friends”?
Menurut Shaffer, hubungan ibu dan anak wanitanya tak pernah dalam satu level. Kedua belah pihak tak pernah berada dalam satu tahap kehidupan yang sama pada saat yang sama. Ibu akan selalu menjadi pengasuh yang emosional. Anda mungkin pernah ingat ibu mengatakan, “Ibu selalu tahu apa yang kamu lakukan.” Mereka bisa saja menjadi teman, namun bukan “teman terbaik” karena pertemanan semacam ini membutuhkan sikap timbal-balik. Sikap seperti ini memerlukan kontak secara terus-menerus, misalnya, Anda tumbuh besar bersama, Anda kuliah di tempat yang sama dengan sahabat Anda, bahkan Anda mungkin menyekolahkan anak di tempat yang sama. Itulah yang menciptakan pertemanan yang baik.

Jika ibu dan anak wanita menjalin hubungan yang terlalu dekat, apa yang perlu dilakukan?
Anak wanita harus mampu menjelaskan para ibu apa yang mereka perlukan, dan apa yang tidak mereka perlukan. Akan sulit bagi sang ibu untuk mulai menatap sang anak sebagai orang dewasa. Sebagian ibu masih sering menyampaikan saran-saran yang mungkin kurang berkenan untuk anaknya. Untuk itu, para ibu sebaiknya mulai belajar untuk menjadi pendengar yang aktif, daripada meminta putrinya untuk melakukan sesuatu karena ibu mengira selalu tahu apa yang terbaik bagi anak wanitanya. “Para ibu itu masih ingin melindungi anak wanitanya. Pada satu titik, anak wanita harus mampu menempuh jalan hidupnya sendiri. Kita ingin berjalan bersama, tetapi kita tidak perlu mengontrolnya,” jelas Gordon.

 

 

TIPS MENGATUR ANAK REMAJA

Beberapa hal perubahan pada anak menjelang remaja pasti terjadi, salah satu perubahan yang menjadi ciri khas anak remaja adalah ingin selalu aktif dan tak ingin dibatasi. Maklum saja, usia ini termasuk masa-masa krisis dalam perjalanan panjang proses kehidupan seseorang. Di masa inilah kita belajar membentuk identitas diri.

Alhasil remaja selalu diliputi dengan rasa ingin tahu yang besar. Sebagai orang tua, rasa ingin tahu ini tak jarang diartikan sebagai sesuatu yang bikin deg-degan karena takut anak remaja terjebak dalam berbagai masalah negatif. Mulai dari merokok, narkoba, hingga pergaulan bebas.

Bagi psikolog A. Kasandra Putranto, masalah akan timbul jika orangtua salah menerapkan aturan. Entah karena terlalu kaku atau malah terlalu bebas. Dan ini bisa terjadi karena pengalaman, latar belakang, serta kondisi zaman yang berbeda antara orangtua dengan anak-anaknya.

Itu mengapa orang tua harus memiliki kemampuan untuk menyelaraskan kemarahan dengan kesabaran. Kemampuan itu harus kita miliki agar saat membuat aturan, benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi si remaja. Coba cermati beberapa pola pandang berikut. Setelahnya, terapkan juga pada beragam jenis pakem pengasuhan lainnya.

# Dilarang Pulang Larut Malam.
Hal itu boleh dilanggar, jika…memang ada kegiatan sekolah atau kuliah yang membuat anak perlu pulang larut malam. Walau bagaimanapun, sebaiknya kita tidak lupa menyesuaikan aturan dengan kebutuhan. “Pengecualian ini sebaiknya disertai dengan aturan pendukung yang lain. Istilahnya, aturan toleransi,” saran Kasandra. Toleransinya adalah anak harus menelepon dulu ke rumah dan menjelaskan kepada orangtua, apa alasannya ia pulang terlambat. Timbal baliknya, orang tua bisa menanyakan anak sedang bersama siapa dan akan pulanng naik apa serta bersama siapa.

#Dilarang Kuliah ke luar Kota.
Anda sebagai orang tua wajib mengabaikan satu hal ini,…anak kita justru tak cukup mandiri untuk bisa menjaga dirinya sendiri. Mungkin terdengar aneh, tapi saat kita memberi ruang pada anak yang kurang mandiri maka aka nada kesempatan belajar baginya. Belajar untuk mandiri dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya.
Dan untuk melengkapinya tinggal berjauhan dengan kita, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan. Mulai dari membiasakannya mencuci piring sendiri, membereskan kamar tidur, hingga mengatur uang jajan bulanan. Plus berikan padanya kepercayaan. Berbicara mengenai kepercayaan, ingatlah bahwa kepercayaan tidak diberikan dengan instan tapi dibangun sedari mereka masih kecil. “Menaati aturan orang tua ibarat membayar utang di bank. Semakin bisa diandalkan, semakin banyak kepercayaan yang diperoleh.”

#Pemaksaan Sekolah
Tidak masalah, asal…kita yakin dan bisa menjamin telah mengenal betul apa yang diinginkan anak, apa bakatnya, serta ke mana arah minatnya. Kasandra juga menekankan agar orang tua menghindari ambisi pribadi. Seperti membebankan anak mengejar cita-cita kita yang tidak tercapai.

Jika kita tidak mengenali betul kemampuan anak dan masih dikuasai ambisi pribadi, jangan coba-coba mengarahkan anak harus menjadi apa. Memaksakan harapan dan kehendak, justru tidak akan membuahkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak kita.

#Melarang Pacaran.
Silahkan saja, asal…
anak kita terbukti memang masih terlalu dini untuk pacaran. Contohnya, usia anak masih di bawah 15 tahun dan memiliki sifat kekanak-kanakan. Kalaupun akhirnya anak punya pacar, jangan langsung mengamuk. Melainkan berikan rambu-rambu berpacaran yang tidak boleh dilanggar anak. Plus, awasi si remaja yang sedang berpacaran dengan bijak.

PERSAHABATAN IBU DAN ANAK WANITA REMAJA

Siapkan diri anda sebagai seorang ibu yang mempunyai anak wanita yang sedang tumbuh menjadi remaja. Mengapa? Karena sebagai ibu dari anak wanita remaja menjelang dewasa, Anda dituntut lebih cerdas memposisikan diri. Kapan waktunya menjadi teman atau orangtua. Pasalnya, tak mudah membangun keakraban antara sesama wanita. Jika salah mengambil sikap, bersiaplah hubungan beda usia ini menjadi rumit, bahkan bisa saja berkonflik.

Meskipun keakraban bak teman antara ibu dan anak kini semakin menjadi tren, tetapi bersikap terlalu akrab kadang kala membuat posisi ibu sulit untuk menghadapi putrinya. Hierarki antara ibu dan anak wanitanya masih diperlukan agar anak tahu kapan ia bisa menerima masukan ibunya sebagai teman dan kapan harus mematuhi perintah ibunya sebagai orangtua.

Bagaimanapun, kelak anak bisa melihat sosok ibu sebagai teman. Sebuah survei menunjukkan bahwa 71 persen wanita usia 21 hingga 54 tahun menganggap ibunya sebagai teman.

Beberapa hal yang perlu dilakukan ibu masa kini adalah menyeimbangkan peran sebagai orangtua dan teman. Ibu juga perlu bersikap tegas, keras, dan disiplin terhadap anaknya. Bagaimana anak menghargai orangtua, dipengaruhi bagaimana ayah dan ibunya memosisikan diri.

Hubungan hierarki antara ibu dan anak berdampak positif pada penghargaan privasi setiap individu. Anda sebagai wanita dewasa dan juga sebagai ibu memiliki kehidupan pribadi yang berbeda dengan anak wanita Anda.  Begitu pun dengan anak wanita Anda, ia memiliki teman dan perlu bergaul dengan orang lain seusianya untuk membangun kepribadian dan jati dirinya. Adanya hierarki memudahkan orangtua dan anak untuk menjalani kehidupan masing-masing.

Bayangkan jika hubungan ibu-anak terlalu dekat sehingga semua kegiatan selalu dilakukan bersama. Yang terjadi adalah si anak terperangkap dalam kehidupan bersama ibunya dan merasa bersalah jika harus meninggalkan ibunya untuk bergaul bersama anak lain seusianya. Hubungan yang terlalu dekat seperti ini juga membawa pengaruh buruk bagi ibunya. Di saat harusnya ibu bisa melakukan berbagai kegiatan bersama komunitas ibu atau kegiatan positif lain, ia justru terperangkap dalam hubungan “pertemanan” dengan anak wanitanya.

Jika hubungan yang terlalu dekat sudah telanjur terjadi antara ibu dan putrinya, sikap dewasa menjadi solusinya. Anda sebagai ibu, wanita dewasa, sudah semestinya mengambil peran ini. Bersikaplah dewasa, hargai privasi dan kemandirian anak wanita yang menjelang dewasa. Dengan bersikap seperti ini, anak pun akan menghargai orangtuanya, tidak hanya sebagai teman, tetapi juga sebagai ibu.

 

MENGAPA ANAK CENDERUNG DIET SEPERTI MAMANYA?

Bagi para wanita yang mempunyai anak cewek yang sedang memasuki masa pubertas atau remaja wajib memperhatikan kebiasaan – kebiasaan yang sering dilakukan, seperti kebiasaan diet. Apakah Anda termasuk wanita yang selalu mengamati berat badan, dan melakukan diet untuk mendapatkan berat ideal Anda? Kemungkinan besar, kelak putri Anda pun akan meniru apa yang Anda lakukan.

Berdasarkan survei yang melibatkan 2.500 remaja usia 13-19 tahun, remaja putri merasa dibebani tuntutan untuk selalu kurus. Kecenderungan mereka untuk berdiet (jika ibunya juga selalu diet) dua kali lipat dibanding remaja seusianya yang ibunya tidak berdiet. Terlihat juga bahwa 35 persen remaja putri yang ibunya berganti dari satu pola diet ke pola diet lainnya, cenderung akan mengurangi kalori sebagai caranya mengatur pola makan.

Pengaruh dari orangtua dan teman-teman yang selalu berkomentar tentang bentuk badan yang langsing mendorong 15 persen dari remaja putri untuk berdiet secara teratur. Jika para ibu membahas bentuk tubuh para selebriti, remaja putri ini cenderung akan mengkhawatirkan lingkar pinggang mereka.

Sebanyak 93 persen dari mereka khawatir dengan berat badannya, dan lebih dari tiga perempat remaja ini mengatakan bahwa teman-teman mereka juga berdiet. Lebih dari separuh dari mereka mengatakan bahwa keluarga mereka selalu berkomentar mengenai apa yang mereka makan, sementara seperempatnya menyatakan bahwa mereka memiliki seorang teman yang mengalami kelainan pola makan.

Melihat fenomena ini, para pakar kesehatan memeringatkan bahwa kekhawatiran yang berlebihan mengenai berat badan pada usia dini dapat meningkatkan risiko anoreksia. Penurunan berat badan yang ekstrem juga disebutkan bisa mengacaukan masa pubertas.

“Nilai-nilai anak lebih sering ditangkap daripada diajarkan; apa yang dilakukan dan dikatakan orangtuanya itulah yang penting. Perilaku sehat terhadap makanan dan bentuk tubuh seharusnya dimulai di rumah,” kata Katharine Hill, dari lembaga Care for the Family.

Tekanan untuk bisa diterima di lingkup pergaulan dan keinginan untuk membuat teman-teman prianya terkesan, menurut Tam Fry dari Child Growth Foundation, juga memaksa remaja putri untuk kelewat resah mengenai berat badan.

“Tidak pantas lah, jika anak-anak berdiet,” katanya. “Orangtua seharusnya tidak terlalu mempermasalahkan berat badan, tetapi lebih memastikan agar putri mereka makan dengan sehat. Anak-anak wanita itu bertambah berat karena konsekuensi biologis dari pubertas. Namun mereka seharusnya membiarkan hal itu terjadi alami, karena 99 persen dari mereka akan tetap langsing pada akhirnya.”

Sementara itu, Annabel Brog, editor majalah remaja Sugar, yang memberi kuasa untuk jajak pendapat ini, berpendapat bahwa ibu memang selalu menginginkan yang terbaik untuk putrinya. “Namun kita hidup di dunia yang terlalu memikirkan ukuran tubuh, dan anak wanita mau tak mau pasti akan mengikuti, dan beradaptasi dengan apa yang dikhawatirkan ibunya,” serunya.

Bulan lalu, terungkap kasus mengenai Corleigh Gilardoni, anak wanita usia 8 tahun yang diharuskan diet oleh ibunya pada usia 2 tahun, yang menyebabkannya nyaris kelaparan. Sang ibu yang bertubuh gemuk, Aly Gilardoni (36), mengatakan bahwa ia tidak ingin anak yang gemuk. “Saya terobsesi dengan penampilannya. Saya ingin ia cantik dan populer, dan itu tak akan terjadi bila tubuhnya besar,” katanya.

Namun para dokter mengatakan bahwa Corleigh menghadapi risiko penghambatan pertumbuhan, penundaan masa puber, dan kekurangan vitamin.