TIPS MENGATUR ANAK REMAJA

Beberapa hal perubahan pada anak menjelang remaja pasti terjadi, salah satu perubahan yang menjadi ciri khas anak remaja adalah ingin selalu aktif dan tak ingin dibatasi. Maklum saja, usia ini termasuk masa-masa krisis dalam perjalanan panjang proses kehidupan seseorang. Di masa inilah kita belajar membentuk identitas diri.

Alhasil remaja selalu diliputi dengan rasa ingin tahu yang besar. Sebagai orang tua, rasa ingin tahu ini tak jarang diartikan sebagai sesuatu yang bikin deg-degan karena takut anak remaja terjebak dalam berbagai masalah negatif. Mulai dari merokok, narkoba, hingga pergaulan bebas.

Bagi psikolog A. Kasandra Putranto, masalah akan timbul jika orangtua salah menerapkan aturan. Entah karena terlalu kaku atau malah terlalu bebas. Dan ini bisa terjadi karena pengalaman, latar belakang, serta kondisi zaman yang berbeda antara orangtua dengan anak-anaknya.

Itu mengapa orang tua harus memiliki kemampuan untuk menyelaraskan kemarahan dengan kesabaran. Kemampuan itu harus kita miliki agar saat membuat aturan, benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi si remaja. Coba cermati beberapa pola pandang berikut. Setelahnya, terapkan juga pada beragam jenis pakem pengasuhan lainnya.

# Dilarang Pulang Larut Malam.
Hal itu boleh dilanggar, jika…memang ada kegiatan sekolah atau kuliah yang membuat anak perlu pulang larut malam. Walau bagaimanapun, sebaiknya kita tidak lupa menyesuaikan aturan dengan kebutuhan. “Pengecualian ini sebaiknya disertai dengan aturan pendukung yang lain. Istilahnya, aturan toleransi,” saran Kasandra. Toleransinya adalah anak harus menelepon dulu ke rumah dan menjelaskan kepada orangtua, apa alasannya ia pulang terlambat. Timbal baliknya, orang tua bisa menanyakan anak sedang bersama siapa dan akan pulanng naik apa serta bersama siapa.

#Dilarang Kuliah ke luar Kota.
Anda sebagai orang tua wajib mengabaikan satu hal ini,…anak kita justru tak cukup mandiri untuk bisa menjaga dirinya sendiri. Mungkin terdengar aneh, tapi saat kita memberi ruang pada anak yang kurang mandiri maka aka nada kesempatan belajar baginya. Belajar untuk mandiri dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya.
Dan untuk melengkapinya tinggal berjauhan dengan kita, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan. Mulai dari membiasakannya mencuci piring sendiri, membereskan kamar tidur, hingga mengatur uang jajan bulanan. Plus berikan padanya kepercayaan. Berbicara mengenai kepercayaan, ingatlah bahwa kepercayaan tidak diberikan dengan instan tapi dibangun sedari mereka masih kecil. “Menaati aturan orang tua ibarat membayar utang di bank. Semakin bisa diandalkan, semakin banyak kepercayaan yang diperoleh.”

#Pemaksaan Sekolah
Tidak masalah, asal…kita yakin dan bisa menjamin telah mengenal betul apa yang diinginkan anak, apa bakatnya, serta ke mana arah minatnya. Kasandra juga menekankan agar orang tua menghindari ambisi pribadi. Seperti membebankan anak mengejar cita-cita kita yang tidak tercapai.

Jika kita tidak mengenali betul kemampuan anak dan masih dikuasai ambisi pribadi, jangan coba-coba mengarahkan anak harus menjadi apa. Memaksakan harapan dan kehendak, justru tidak akan membuahkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak kita.

#Melarang Pacaran.
Silahkan saja, asal…
anak kita terbukti memang masih terlalu dini untuk pacaran. Contohnya, usia anak masih di bawah 15 tahun dan memiliki sifat kekanak-kanakan. Kalaupun akhirnya anak punya pacar, jangan langsung mengamuk. Melainkan berikan rambu-rambu berpacaran yang tidak boleh dilanggar anak. Plus, awasi si remaja yang sedang berpacaran dengan bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s