CARA MENDIAGNOSA AUTIS

Apakah dikarenakan kondisi alam atau kondisi bawaan yang mengakibatkan kelahiran anak mengidap autis, para kalangan ahli juga belum bias memastikan. Bertambahnya jumlah penderita autis di seluruh dunia membuahkan keprihatinan dari ilmuwan dalam bidang kedokteran, sains dan teknologi serta psikolog. Hal ini dibuktikan dengan adanya terobosan di bidang terapi dan perawatan dengan menggunakan pendekatan teknologi dan social seperti floor time. Akan tetapi, penelitian terkait penyebab dan diagnose hingga kini masih menjadi grey area (area tak terdefinisi). Diagnosa autis sangat penting agar dapat diterapkan sejumlah terapi yang tepat guna.

Berbagai cara untuk mendiagnosa telah dilakukan dan salah satu cara yang digunakan dalam diagnose beberapa tahun terakhir adalah berdasarkan sejumlah gejala yang terlihat. Akan tetapi, bila dilihat dari sejumlah fakta dari kondisi di lapangan, perkembangan kejiwaan anak tidak ada patokan yang pasti. Pesat atau tidaknya perkembangan psikologi ini tergantung dari keadaan awal anak dan tidak ada besaran baku yang dapat diukur. Selain itu, perilaku-perilaku bermasalah bias juga dikarenakan pola asuh yang salah.

Cara umum yang mulai dikembangkan adalah descriptive approach to diagnosis. Cara ini merupakan suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa sehingga menyertakan pengamatan-pengamatan yang menyeluruh di setting-setting social anak sendiri. Setting ya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai lingkungan sehari-hari anak dimana hambatan maupun kesulitan mereka tampak jelas di antara teman-teman sebaya mereka yang ‘normal’.

Diagnosa autis diperlukan untuk mengetahui potensi khusus yang dimiliki anak. Salah satu contoh anak autis yang berhasil mengembangkan potensinya adalah Temple Grandine yang mampu mengembangkan kemampuan visual dan pola berpikir yang sistematis sehingga menjadi seorang Doktor dalam bidang peternakan, Donna William yang mampu mengembangkan kemampuan berbahasa dan bakat seninya sehingga dapat menjadi seorang penulis dan seniman, Bradley Olson seorang mahasiswa yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan kebugaran fisiknya sehingga menjadi seorang pemuda yang aktif dan tangkas dan mungkin masih banyak nama-nama lain yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang tua penderita autis di Indonesia.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s