AUTISME MEMERLUKAN PERHATIAN ORANG TUA

Kita sebagai orang tua tentunya mengharapkan anak terlahir dengan selamat, sehat dan sempurna dan tak satu pun orangtua yang mengharapkan anaknya lahir dengan membawa masalah. Apalagi bila masalah itu tidak segera terlihat seperti autis. Anak-anak yang terkena autis kini makin meningkat jumlahnya dan mereka membutuhkan perhatian khusus, tidak saja orang tua dan keluarganya, tetapi juga masyarakat dan institusi pemerintah.

Begitulah yang diungkap Gayatri, Ketua Umum Komunitas Masyarakat Peduli Autis dan ADHD. Autis berbeda dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Seseorang dikategorikan ADHD jika ia kurang perhatian atau hiperaktif (tidak dapat tenang) dan impulsif, atau keduanya. Kondisi ini terjadi selama paling tidak enam bulan sehingga pertumbuhannya menjadi tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan normal. Anak autis terganggu dalam interaksi sosialnya, berkomunikasi, serta bertingkah laku dan tertarik pada sesuatu yang berulang, terbatas, dan khas.

Gangguan dalam interaksi sosial itu seperti rendahnya kemampuan berkomunikasi nonverbal: kontak mata, ekspresi muka, dan gerak-gerik tubuh. Mereka tidak memiliki keinginan untuk berbagi kesenangan, prestasi, atau keingintahuan dengan anak-anak lain. Mereka juga tidak mampu memberikan reaksi sosial atau emosional seperti menunjukkan simpati saat orang lain bersedih, tidak membalas memeluk saat dipeluk, atau tidak mampu membaca kemarahan di wajah orang lain.

Gangguan dalam komunikasi adalah terlambat atau tidak ada kemampuan berbicara. Kalaupun dapat berbicara, tidak mampu memulai percakapan atau mempertahankan percakapan. Bahasanya cenderung berulang-ulang, kaku, dan khas. Gayatri yang tinggal di Australia dan memiliki anak laki-laki (14) yang autis ini menuturkan, hingga saat ini para ahli masih terus melakukan penyelidikan mengenai penyebab utama autis. Meskipun beberapa penyebab, seperti komplikasi sebelum dan setelah melahirkan, vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella), polusi lingkungan, genetik, virus, keracunan logam berat, serta alergi terhadap vitamin atau makanan tertentu disebut-sebut sebagai penyebab, hingga saat ini para ahli sepakat bahwa belum ditemukan penyebab pasti.

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat. Hampir pada seluruh kasus, autisme muncul saat anak lahir atau pada usia tiga tahun pertama. Menurut penyelidikan di Amerika, autism terjadi pada 10 anak dari 10.000 kelahiran. Kemungkinan terjadinya empat kali lebih sering pada bayi laki-laki dibanding bayi perempuan.

  • Statistik bulan Mei 2004 di Amerika menunjukkan, satu di antara 150 anak berusia di bawah 10 tahun atau sekitar 300.000 anak-anak memiliki gejala autis.
  • Dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 10-17 persen per tahun, para ahli meramalkan bahwa pada dekade yang akan dating di Amerika saja akan terdapat 4 juta penyandang autis.

Autis banyak terjadi di belahan dunia manapun. Tidak peduli pada kulit, suku, ras, agama, maupun status sosial. Dengan pertolongan ahli-berikut metode khusus dan terapi yang diperlukan di Negara maju tidak sedikit anak-anak dengan kondisi autis ini tumbuh menjadi pribadi mandiri dan berhasil. Ini mengingat mereka tidak semuanya berintelegensia rendah. Sebagian anak autis memiliki IQ dibawah rata-rata, sebagian lagi normal, dan lainnya di atas rata-rata. Di Amerika dan Eropa, bahkan ada yang mencapai S3.

Pada umumnya, anak autis dikatakan “sembuh” bila mampu hidup mandiri (sesuai dengan tingkat usia), berperilaku normal, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lancer serta memiliki pengetahuan akademis yang sesuai anak seusianya. Untuk “sembuh”, banyak faktor yang menentukan. Di antaranya, tingkat keparahan autis, fasilitas penunjang seperti dokter, terapis, dan sekolah khusus, kesiapan orang tua membant usang anak, serta dukungan dari masyarakat luas. Karena itu, orang tua dengan anak autis tidak perlu berputus asa. Kasih sayang dan kesabaran adalah kunci untuk membantu memandirikan anak autis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s