BEDA CARA PERSAHABATAN ANTARA ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN

Apabila kita mempunyai 2 anak  lelaki dan perempuan, kita akan dihadapkan persoalan dalam menyikapi beberapa perbedaan. Salah satunya perbedaan cara anak laki-laki dan perempuan memandang persabahatan. Saat beranjak dewasa, anak perempuan lebih mendefinisikan persahabatan sebagai teman yang mau mendengarkan dan mengerti, sekaligus tempat curhat dan berbagi emosi. Sementara anak-anak laki-laki memandang persahabatan sebagai teman berbagi waktu bersama, ada di sisinya saat ia menghadapi konflik, dan berbagi ketertarikan yang sama. Bagi anak laki-laki, keintiman emosional tak terlalu penting dalam mendefinisikan kedekatan hubungan ketimbang kesetiaan saat ia menghadapi masalah.

Kedekatan anak dan orangtua terbentuk dalam 24 bulan pertama kehidupannya. Kedekatan itu memiliki pengaruh besar terhadap hidup anak, termasuk melandasi hubungan di masa depan anak. Kehadiran saudara juga memiliki pengaruh terhadap gaya persahabatan anak dalam cara positif dan negatif. Cara anak menghadapi saudaranya bisa memengaruhi caranya bersahabat di masa depan. Beebrapa anak cukup beruntung untuk bersahabat dengan saudaranya sendiri.

Cara anak laki-laki dan perempuan bersahabat serupa di awal usianya, atau hingga masa pre-school. Namun, cara anak laki-laki bersahabat mulai berubah sekitar usia 7 tahun, dan biasanya emosinya pun mulai berkurang. Hal ini bisa terlihat jika Anda memerhatikan interaksi anak-anak perempuan berteman dibanding sekumpulan anak-anak laki-laki saat bermain bersama. Anak perempuan umumnya lebih mudah bergaul, bermain kooperatif, mau menegosiasikan konflik, dan menunjukkan perasaan saat ia bermain rumah-rumahan, misalnya. Sementara anak laki-laki bermain dengan cara berbeda, mereka lebih cenderung bermain dengan cara kompetitif, mengetes kesetiaan teman, dan membandingkan kemampuan fisik dan ukuran.

Salah satu hal yang paling sering didebatkan adalah, mulai di usia 7 tahun, anak laki-laki mulai malas menunjukkan tindakan afeksi kepada orang-orang di sekitarnya, seperti berpelukan. Menurut dr Handwerk, sebenarnya anak laki-laki juga bisa menunjukkan tindakan afeksi sebebas anak perempuan, namun, di kesehariannya, baik itu melalui media sosial atau orang-orang di sekelilingnya tidak menunjukkan tindakan itu, alhasil ia tidak mau melakukan hal-hal afeksi itu, karena di pikirannya itu adalah tindakan yang khusus untuk perempuan yang lemah. Di masa sekarang, tindakan afeksi sudah cukup luwes, tindakan afeksi atau untuk membuat anak lebih terbuka dengan sentuhan afeksi dalam batas wajar bisa diajarkan lewat tindakan orangtuanya.

KENAPA ANAK SUSAH DILARANG ?

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

 

 

LEBIH DEKAT DENGAN ANAK AUTIS

Bagi kebanyakan orang awam mendengar kata autis merupakan kata yang asing dan langka, pasti banyak berbagai macam pikiran saat mendengar kata ‘autis’.

Asing, takut, ngeri, aneh dan tidak bisa diatur, mungkin inilah ungkapan yang terlintas dalam sebagian orang. Sebagian yang lain mungkin berpikiran anak autis adalah anak yang misterius dengan potensi yang luar biasa. Tapi apapun itu, saya akan memberikan sedikit gambaran tentang anak dengan kecenderungan autisme ini.

Anak autis memiliki dunia sendiri yang tidak dapat dijamah oleh orang normal. Anak autis juga cenderung mengurung diri dalam dunia khayalan. Hal ini menyebabkan anak ini terkadang tidak dapat memahami instruksi sederhana yang dianggap mudah bagi orang normal. Sehingga tidak jarang, anak autis ini berlarian saat pelajaran, acuh tak acuh saat ada orang yang mendekat dan bahkan menyakiti dirinya sendiri dengan menggigit atau membenturkan anggota tubuh tertentu ke tembok.

Berbagai hal di atas mungkin akan membuat anda berpikir seribu kali untuk mendekati anak autis. Tapi kawan, ekspresi ini adalah ungkapan hati dari seorang anak karena ingin sekedar ‘mendapatkan perhatian’ dari orang-orang di sekelilingnya. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk merubah kebiasaan ini, mereka membutuhkan bantuan tidak hanya dari trainer dan keluarga tapi juga dari anda yang berada di sekelilingnya.

Apabila anda menemui anak autis di sekitar anda, cobalah sesekali ‘menanyakan nama dan hal yang dia senangi’. Atmosfer yang mendukung seperti adanya perhatian yang lebih dari sekitarnya akan membantu perkembangan. Autis bukanlah suatu penyakit yang membutuhkan obat-obatan medis, tapi anak autis hanya mengalami keterlambatan perkembangan bergantung kondisi sosialnya.

MUSIK SEBAGAI TERAPI MOTORIK ANAK AUTIS

Beberapa metode telah ditemukan oleh para pakar neurologis guna mendongkrak kemampuan motorik otak anak penyandang autis, salah satu metode untuk menangani anak autis yakni selain memberikan perawatan secara psikologis juga bisa dengan memberikan pelajaran musik untuk menggugah konsentrasi mereka. Beberapa sekolah menyediakan sarana tersebut, Koordinator sekolah tersebut menyatakan, ada dua tahapan pembelajaran musik anak autis, yakni tahap dasar dan lanjutan.

Biasanya di sekolah musik diajarkan tahap – tahap yang paling mudah dikenali motorik otak anak autis, pada tahap dasar, anak autis cukup diberikan pengenalan nada saja, misalnya suara ketukan maupun bunyi-bunyian alat musik seperti drum. Setelah mengenal nada dasar, kemudian siswa masuk tahap lanjutan dengan diberikan musik yang lebih beralur seperti piano. Untuk sampai pada tahap lanjutan, tergantung keseriusan serta daya tangkap masing-masing anak autis. Agar usaha membangkitkan konsentrasi siswa lebih cepat, sekolah musik Gita Nada Persada juga mendatangkan psikolog untuk membantu pola berpikir anak autis. Untuk itu, tiap minggu ada pelayanan konsultasi psikologi yang dilakukan bagi siswa Gita Nada persada.

”Namun, akhir-akhir ini yang minta bantuan psikologi bukan si anak autis, melainkan guru musik yang mengajarnya setiap hari. Maklum, tingkah laku anak autis yang berlebihan membuat pikiran para guru tegang. Jadi, mereka membutuhkan bantuan psikolog,” papar Adinda sembari tersenyum. Selain itu, peranan orangtua juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak autis menjalani hidup, baik dari pola kehidupan sehari-hari siswa maupun ritme belajar yang dilakukan kepada anak autis di rumah. “Jam tidur juga harus dijaga. Perhatian orangtua dituntut bisa mengendalikan pola hidup anaknya. Kalau tidak, konsentrasinya bisa bubar, tidak tahan lama, ” tuturnya. Dengan belajar musik, anak autis bisa menemukan konsentrasinya. Nada dan ketukan musik yang keluar dari piano dan drum mampu menembus arah pikirannya sedikit demi sedikit dan akhirnya merangsang otak anak.

Seperti yang dilakukan salah seorang siswa sekolah musik khusus autis. Dia begitu tenang saat jemarinya menari di atas tuts piano meski suaranya tidak beraturan. Maklum, Milka hanya bisa memainkan tiga tangga nada piano, yakni do, re, dan mi. Namun, dengan bermain musik, dia sedikit bisa mengatur konsentrasi yang ada di pikirannya. Ketukan nada yang keluar dari piano mampu menggugah daya ingat serta fokus seorang anak yang menderita autis. Sesekali, Milka bertingkah berlebihan dengan memukul badan piano. Reaksi yang berlebihan seperti itu sering dilakukan anak autis. Apa yang mereka inginkan juga harus segera terwujud. Pengajar musik harus selalu mengajarkan musik kepada siswa autis harus memiliki kesabaran tinggi.

Biasanya, para siswa sering bertingkah aneh. Pasalnya, antara tindakan serta pikirannya sering tidak bisa menyambung. “Kalau pertama kali mereka bermain musik, biasanya marah-marah tanpa sebab. Bahkan, ada yang sampai menangis histeris. Semua itu respons dari anak autis melawan kesadaran mereka. Untuk memahami musik, biasanya anak autis membutuhkan waktu dua tahun. Sang anak juga bisa mengontrol dirinya sendiri. Untuk memberikan pelajaran, ada dua guru yang menangani seorang siswa. Satu guru bertugas mengajar cara bermain musik, sedangkan satu guru lainnya memegang tubuh anak autis. Kalau tidak dilakukan dua guru, bisa kerepotan. “Kalau tidak dua guru yang menangani, si anak autis bisa melompat-lompat dan main pukul. Jadi, mereka harus diarahkan dengan tindakan ekstra.

AUTISME MEMERLUKAN PERHATIAN ORANG TUA

Kita sebagai orang tua tentunya mengharapkan anak terlahir dengan selamat, sehat dan sempurna dan tak satu pun orangtua yang mengharapkan anaknya lahir dengan membawa masalah. Apalagi bila masalah itu tidak segera terlihat seperti autis. Anak-anak yang terkena autis kini makin meningkat jumlahnya dan mereka membutuhkan perhatian khusus, tidak saja orang tua dan keluarganya, tetapi juga masyarakat dan institusi pemerintah.

Begitulah yang diungkap Gayatri, Ketua Umum Komunitas Masyarakat Peduli Autis dan ADHD. Autis berbeda dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Seseorang dikategorikan ADHD jika ia kurang perhatian atau hiperaktif (tidak dapat tenang) dan impulsif, atau keduanya. Kondisi ini terjadi selama paling tidak enam bulan sehingga pertumbuhannya menjadi tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan normal. Anak autis terganggu dalam interaksi sosialnya, berkomunikasi, serta bertingkah laku dan tertarik pada sesuatu yang berulang, terbatas, dan khas.

Gangguan dalam interaksi sosial itu seperti rendahnya kemampuan berkomunikasi nonverbal: kontak mata, ekspresi muka, dan gerak-gerik tubuh. Mereka tidak memiliki keinginan untuk berbagi kesenangan, prestasi, atau keingintahuan dengan anak-anak lain. Mereka juga tidak mampu memberikan reaksi sosial atau emosional seperti menunjukkan simpati saat orang lain bersedih, tidak membalas memeluk saat dipeluk, atau tidak mampu membaca kemarahan di wajah orang lain.

Gangguan dalam komunikasi adalah terlambat atau tidak ada kemampuan berbicara. Kalaupun dapat berbicara, tidak mampu memulai percakapan atau mempertahankan percakapan. Bahasanya cenderung berulang-ulang, kaku, dan khas. Gayatri yang tinggal di Australia dan memiliki anak laki-laki (14) yang autis ini menuturkan, hingga saat ini para ahli masih terus melakukan penyelidikan mengenai penyebab utama autis. Meskipun beberapa penyebab, seperti komplikasi sebelum dan setelah melahirkan, vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella), polusi lingkungan, genetik, virus, keracunan logam berat, serta alergi terhadap vitamin atau makanan tertentu disebut-sebut sebagai penyebab, hingga saat ini para ahli sepakat bahwa belum ditemukan penyebab pasti.

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat. Hampir pada seluruh kasus, autisme muncul saat anak lahir atau pada usia tiga tahun pertama. Menurut penyelidikan di Amerika, autism terjadi pada 10 anak dari 10.000 kelahiran. Kemungkinan terjadinya empat kali lebih sering pada bayi laki-laki dibanding bayi perempuan.

  • Statistik bulan Mei 2004 di Amerika menunjukkan, satu di antara 150 anak berusia di bawah 10 tahun atau sekitar 300.000 anak-anak memiliki gejala autis.
  • Dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 10-17 persen per tahun, para ahli meramalkan bahwa pada dekade yang akan dating di Amerika saja akan terdapat 4 juta penyandang autis.

Autis banyak terjadi di belahan dunia manapun. Tidak peduli pada kulit, suku, ras, agama, maupun status sosial. Dengan pertolongan ahli-berikut metode khusus dan terapi yang diperlukan di Negara maju tidak sedikit anak-anak dengan kondisi autis ini tumbuh menjadi pribadi mandiri dan berhasil. Ini mengingat mereka tidak semuanya berintelegensia rendah. Sebagian anak autis memiliki IQ dibawah rata-rata, sebagian lagi normal, dan lainnya di atas rata-rata. Di Amerika dan Eropa, bahkan ada yang mencapai S3.

Pada umumnya, anak autis dikatakan “sembuh” bila mampu hidup mandiri (sesuai dengan tingkat usia), berperilaku normal, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lancer serta memiliki pengetahuan akademis yang sesuai anak seusianya. Untuk “sembuh”, banyak faktor yang menentukan. Di antaranya, tingkat keparahan autis, fasilitas penunjang seperti dokter, terapis, dan sekolah khusus, kesiapan orang tua membant usang anak, serta dukungan dari masyarakat luas. Karena itu, orang tua dengan anak autis tidak perlu berputus asa. Kasih sayang dan kesabaran adalah kunci untuk membantu memandirikan anak autis.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Banyak dari kalangan masyarakat mempunyai pendapat bahwa memberikan pendidikan anak usia dini cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain hal tersebut mereka juga beranggapan bahwa PAUD tidak memerlukan profesionalisme. Pandangan tersebut adalah pandangan yang keliru.

Jika PAUD ingin dilakukan di rumah oleh ibu-ibu sendiri, maka ibu-ibu itu perlu belajar dan menambah pengetahuan tentang proses pembelajaran anak, misalnya dengan membaca buku, mengikuti ceramah atau seminar tentang PAUD.

Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, oleh karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut memahami proses tumbuh kembang anak.

Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.

Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.

Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak bisa juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu karena orangtua bekerja di luar rumah.

Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat skalanya.

AUTISME, PENYAKIT APAKAH ?

Para pakar neurologis dan psikolog terkemuka sampai sekarang masih belum bisa menyimpulkan tentang deskripsi Autisme. Autisme merupakan suatu kelainan yang hingga sampai sekarang belum diketahui dengan pastinya penyebab dari penyakit ini. Ya, kelainan itu adalah “Autisme” atau dengan kata lainnya adalah suatu kelainan fisik dari perkembangan jiwa seorang anak pada masa tiga tahun pertama setelah dilahirkan.

Autisme menyebabkan seseorang yang menderitanya mengalami gangguan pada perkembangan kerja otaknya secara normal dalam kemampuan sosialitasnya dan juga kemampuannya dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya.

Penyebab dan Jenis Autisme

Banyak dari beberapa pakar kesehatan menyebutkan bahwa “Autisme adalah sebuah kondisi fisik yang berhubungan dengan kelainan secara biologis dan kinerja otak seseorang.”

Seorang bayi yang baru lahir tidak bisa divonis bahwa ia menderita autisme ketika lahir, karena kondisi ini hanya dapat diketahui ketika anak tersebut menginjak tahun kedua dalam hidupnya.

Kebanyakan orang tua menganggap bahwa anaknya tersebut menderita autisme dikarenakan pemberian vaksin dan juga obat-obatan yang telah menyebabkan anaknya menderita kelainan tersebut.

Namun, beberapa studi tentang autisme menyebutkan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Bahkan, The American Academy of Pediatrics dan The Institute of Medicine (IOM) juga membenarkan bahwa seorang anak yang terjangkit autisme bukanlah dikarenakan pemberian vaksin dan obat-obatan lainnya.

Akan tetapi, autisme lebih dikarenakan oleh kelainan pada kromosom anak tersebut dan juga permasalahan yang terjadi pada sistem saraf (neurological) dan juga faktor genetik atau keturunan dari anak tersebut.

Terdapat pula sumber yang mengatakan bahwa ada kecurigaan yang menyebabkan seorang anak menderita kelainan autisme namun hal tersebut belum terbukti kebenarannya, yaitu diet, keracunan merkuri, ketidakmampuan tubuh dalam mengkonsumsi vitamin dan mineral tertentu, sensitif terhadap jenis vaksin tertentu.

Berdasarkan bukti yang ada, kebanyakan anak laki-laki yang menderita autisme dibandingkan dengan wanita dan terdapat beberapa jenis dari kelainan dalam perkembangan fisik dari seseorang itu sendiri, misalnya :

1. Asperger syndrome, layaknya autisme, namun perkembangan bahasanya normal.

2. Rett syndrome, berbeda dengan autisme, hanya dialami oleh wanita.

3. Childhood disintegrative disorder, kondisi yang sangat langka dimana sang anak hanya dapat melatih kemampuan belajarnya hingga umur sepuluh tahun saja, setelah itu ia akan kehilangan kemampuan yang telah dipelajarinya.

4. Pervasive developmental disoreder – not otherwise specified (PDD-NOS), yang disebut juga sebagai atypical autisme.

Gejala Autisme

Kondisi kelainan autisme hanya dapat diketahui ketika anak tersebut telah berumur dua tahun dan kebanyakan dari penderita autisme akan bertingkah seakan-akan ia memiliki dunianya sendiri tanpa menyadari kehadiran orang lain.

Kesulitan dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya, kemampuan bicaranya yang lambat dari orang normal, tidak dapat diajak berbicara dalam waktu yang lama, tidak ada kontak mata dengan lawan bicara, selalu mengulang kata yang telah diucapkannya, dan juga kesulitan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal.

Seorang anak penderita autisme memiliki tingkat kesensitifitasan yang melebihi dari manusia normal, khususnya indra penglihatannya, pendengaran, sentuhan, penciuman, ataupun rasa.

Hal ini ditunjukkan ketika mereka merasa terganggu dengan suara berisik maka ia akan menutup kedua telinganya erat-erat.

Mereka lebih menyenangi suatu hal yang itu-itu saja, penderita autisme akan lebih fokus pada suatu hal saja misalkan ia suka akan musik, maka ia akan lebih cepat mempelajari hal yang berhubungan dengan musik saja.

Melakukan gerakan yang sama berulang kali, menunjukan sesuatu ketertarikan yang berlebihan pada suatu objek tertentu.

Autisme merupakan kekurangan atau kelebihan?

Mungkin kelainan autisme ini justru memberikan suatu kelebihan bagi sang penderitanya, hal ini terbukti dari kasus yang terjadi pada, Jacob Barnett, seorang anak yang berumur 12 tahun di Amerika yang dapat memecahkan teori “Big Bang” (teori konsep rumusan matematika yang sangatlah rumit), dan setelah dilakukan serangkaian tes ternyata ia memiliki IQ melebihi Albert Einstein (170).

jacob mengidap Aspergers syndrome, Kristine Barnett, ibu dari Jacob sempat heran ketika anaknya tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun hingga ia menginjak usia dua tahun.

Akibat kelainan yang dideritanya tersebut, Jacob menjadi pengajar di Universitas Indiana. Ia mengajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia matematika (kalkulus, aljebra, geometri, dan trigonometri) yang mungkin bagi kita sendiri pelajaran tersebut sangatlah membosankan sekali.