MENGAPA ANAK LELAKI TIDAK MENYUKAI BONEKA ?

Kesukaan anak lelaki tentunya berbeda dengan anak cewek, hal itu tidak terkait dengan bakat maupun bawaan dari masing-masing jenis kelamin tentunya. Meskipun tidak ada bakat maupun bawaan mengenai hal tersebut, namun secara alamiah anak cewek memang tertarik dengan boneka karena memang anak cewek terprogram untuk begitu, bukan karena ada stereotip tertentu.

Sebagian para peneliti menemukan kecenderungan alamiah tersebut melalui penelitian terhadap anak-anak simpanse. Ternyata, anak-anak simpanse di hutan liar bermain mirip manusia. Anak-anak simpanse yang berlainan jenis kelamin itu sama-sama diberikan tongkat sebagai mainannya. Anak simpanse wanita akan memperlakukan tongkat seperti boneka, meniru ibunya yang menggendong anak bayi simpanse.

Hasil penelitian tersebut menerangkan anak wanita suka bermain dengan boneka sementara anak lelaki tidak, bukan karena stereotip sosial, tetapi lebih kepada kecenderungan biologis. Richard Wrangham, dari Harvard University mengatakan, “Ini merupakan bukti awal dari spesies binatang liar yang mengungkapkan perbedaan obyek mainan dari pria dan wanita.” Penelitian sebelumnya menunjukkan akan adanya pengaruh biologis dalam pemilihan mainan atas monyet yang dikurung, bukan monyet liar yang hidup di alam liar.

Ketika para simpanse muda ini diberikan mainan manusia, simpanse wanita cenderung memilih mainan seperti boneka, sementara yang lelaki memilih mainan lain, seperti mobil-mobilan. Penelitian ini merupakan hasil observasi terhadap simpanse di Kibale National Park, Uganda.

Hasil riset yang diterbitkan dalam Current Biology ini menemukan 4 cara para simpanse bermain dengan tongkat tersebut, yakni; sebagai alat untuk mencungkil dan melihat lubang apakah mengandung madu atau air, sebagai mainan atau senjata dalam menghadapi lawan saat bertarung atau saat bermain, dan untuk dibawa-bawa.

Menurut Wrangham, “Kami pikir, jika tongkat itu diperlakukan seperti boneka, simpanse betina akan membawa tongkat itu lebih sering ketimbang yang jantang, dan akan berhenti membawanya ketika mereka sudah memiliki bayi sendiri. Kini kami tahu, kedua poin tersebut benar adanya.”

Anak-anak simpanse perempuan kadang membawa stik mereka ke dalam sarang tempat mereka beristirahat dan kadang bermain dengan stik tersebut dalam bentuk bermain dengan rasa seperti keibuan. Namun, para peneliti masih belum yakin, apakah kebiasaan membawa-bawa stik tersebut adalah bagian dari permainan yang berlaku bagi semua simpanse, atau hanya sebagai “tradisi sosial yang baru saja terjadi” dalam grup studi tersebut.

Jika ini hanyalah sebuah tindakan unik dari simpanse yang diteliti ini saja, maka ini bisa berarti, perbedaan kecenderungan permainan ini hanya berupa tradisi lokal saja, seperti lagu-lagu untuk anak-anak dan mainan manusia yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Jika memang begitu, ini berarti sifat simpanse terhadap tradisi memang sangat mirip manusia.

 

KEUNTUNGAN MEMPUNYAI ANAK LELAKI

Kapan kita punya anak cowok mah? Begitu kira-kira pertanyaan seputar pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak lelaki. Dan bila diberi pilihan, ingin mempunyai anak laki-laki atau cewek, pastilah lebih banyak yang menjawab ingin punya anak laki-laki. Dari sisi pria, mempunyai anak laki-laki akan membuat ia merasa sudah menjadi pria yang utuh, macho, terjamin kelaki-lakiannya. Sekali lagi, pria hanya akan “merasa”, jadi pendapat ini tak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Akan tetapi kaum wanita mempunyai alas an lain dalam memilih anak laki-laki atau perempuan. Kebanyakan wanita berharap bisa melahirkan anak cewek, karena ingin bisa mendandaninya habis-habisan. Kemudian, ketika ia beranjak tua, ada anak wanita yang mau mengurusinya. Sedangkan keinginan untuk mendapatkan bayi laki-laki umumnya didasari keinginan agar tidak mendapatkan risiko seperti pengeluaran berlebih untuk pernak-pernik, hingga risiko hamil di luar nikah.

Dorongan untuk mendapatkan anak cewek kemungkinan juga berawal dari hubungan Anda dengan ibu Anda. Boleh jadi Anda memiliki koneksi yang hebat dengan ibu, dan menginginkan pengalaman bonding yang sama dengan putri Anda sendiri. Tetapi bisa juga sebaliknya, Anda tidak memiliki hubungan yang baik dengan ibu Anda, sehingga mendambakan kesempatan untuk memperbaikinya dengan anak wanita Anda sendiri.

Indahnya hubungan ibu dan anak laki-laki

Menurut psikoterapis Dr Nancy B. Irwin, pengasuhan yang sehat melibatkan keinginan untuk membesarkan seorang anak, apapun jenis kelaminnya. “Hanya karena Anda belum pernah menjadi laki-laki, tidak berarti Anda tidak bisa membesarkan anak laki-laki yang hebat,” katanya.

Yang perlu dilakukan orangtua saat memiliki anak adalah mengasuhnya agar menjadi orang yang paling menyenangkan. Kelak, ia akan mengisi kekosongan lain sesuai dengan kepribadian, lingkungan, dan pembelajaran sosialnya. Wanita juga tak perlu mengkhawatirkan hubungan khusus antara ibu dan anak lelakinya, seperti mitos Oedipus, demikian menurut Debbie Mandel, MA, penulis buku Turn On Your Inner Light: Fitness for Body, Mind and Soul.

“Justru ini merupakan peluang untuk membentuk anak menjadi pria yang sensitif, baik, dan komunikatif,” saran Mandel.

Namun, memang, ada hal-hal yang mungkin belum Anda sadari ketika memiliki anak laki-laki. Beberapa di antaranya adalah:

 

1. Bayi laki-laki lebih mudah perawatannya

Saat berganti popok. “Kebanyakan ibu yang baru pertama kali mempunyai anak laki-laki khawatir mereka akan melukai bayinya, ketika mereka berusaha mencuci potongan-potongan kain yang menempel di penis bayinya,” kata Adie Goldberg, pekerja sosial klinis dan penulis buku It’s a Baby Boy!. Cara membersihkan mudah saja. Angkat saja kulupnya, lalu bersihkan kepala penisnya.

2. Anak laki-laki memiliki kepercayaan diri lebih tinggi.

Anak laki-laki akan tumbuh menjadi anak yang sehat, karena ia akan memainkan permainan yang membutuhkan kemampuan motorik kasarnya, seperti berlari, bermain bola, berebut ayunan, bahkan berkelahi. Kalaupun si buyung lebih menonjol kemampuan motorik halusnya, seperti melukis, menari, atau membuat puisi, ia tetaplah anak yang pede dengan tubuhnya.

“Meskipun kebanyakan pencapaian utama, seperti berjalan, cenderung diperoleh pada waktu yang sama (antara anak wanita dan laki-laki), kemampuan motorik kasar anak laki-laki akan berkembang pesat selama masa preschool. Mereka juga akan mulai mengalahkan anak wanita dalam hal kemampuan fisik,” tambah Kimberly Parker, perawat dan manajer program klinis di Child Health Promotion-Early Childhood Wellness, Children’s Healthcare of Atlanta.

3. Mereka lebih terdorong untuk mengeksplorasi dunianya.

Rumah yang berisik akan terasa lebih hidup, dan menjadi tanda hubungan antarkeluarga yang sehat. Anak laki-laki yang ekspresif akan selalu berbicara, berteriak, atau tertawa, dengan suara yang keras. Ada masa ketika Anda merasa rumah seperti kapal pecah, tetapi tenanglah. Hal ini karena si buyung sedang mengeksplorasi benda-benda di sekelilingnya.

“Sejak awal, kebanyakan anak laki-laki lebih banyak bergerak daripada anak wanita,” kata Goldberg. “Dan mereka butuh lebih banyak ruang untuk melakukannya. Hal ini tidak akan berubah meskipun usianya sudah bertambah, dan dia akan merasa sangat nyaman mengeksplorasi dunianya, sehingga mengganggu zona kenyamanan Anda.”

4. Mereka memiliki emosi yang lebih kuat.

Bila menyangkut perilaku, anak laki-laki di usia batita akan menunjukkan berbagai kejutan. “Umumnya, anak wanita diyakini lebih emosional daripada anak laki-laki. Namun anak laki-laki yang masih sangat kecil cenderung memiliki emosi yang lebih kuat,” ujar Parker. “Mereka lebih mudah gelisah, dan sulit untuk memulihkan diri.”

Meskipun begitu, ketika usianya bertambah anak laki-laki akan lebih sulit mengekspresikan perasaannya. Oleh karena itu orangtua seringkali lebih sulit meredakan emosinya, atau mencari tahu apa yang mengganggu anak laki-lakinya. “Anak laki-laki tidak hanya lebih lambat berbicara daripada anak wanita, perbendaharaan kata mereka juga lebih terbatas,” tambah Parker.

5. Anak laki-laki akan melindungi.

Meskipun mereka sulit mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, mereka lebih pintar mengungkapkan rasa sayangnya pada orangtua maupun saudara-saudaranya kelak. Cintanya pada Anda akan begitu besar, terutama karena ia tidak bersaing dengan sosok ibu seperti halnya anak wanita. Anda tidak akan mengkritik anak laki-laki karena gaya berpakaiannya yang terlalu seksi, dan karenanya ia tetap memandang ibu sebagai sosok yang sempurna. Ia juga akan melakukan apa saja untuk melindungi Anda.

Parker mengingatkan para orangtua mengenai beberapa kenyataan yang berkaitan dengan perbedaan anak laki-laki dan wanita. Masing-masing bisa memiliki pribadi yang unik dibanding rekan yang sama jenis kelaminnya, apalagi jika dibandingkan dengan anak yang berbeda jenis kelamin.

Meskipun demikian, menurut Parker, kita juga perlu memahami bahwa anak laki-laki dan wanita “diprogram” secara berbeda sejak lahir, dan perbedaan biologis ini akan diperbesar oleh perubahan sosial dan lingkungannya. Menghargai pribadi setiap anak dan menyediakan kesempatan untuk perkembangan fisik dan emosional yang memenuhi kebutuhannya, adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk memastikan perkembangan yang sehat dan bahagia.

 

 

ANAK LELAKI MEMBUTUHKAN SAHABAT

Seperti sering kita lihat, paling tidak di wilayah dekat sekolah di jam-jam pulang sekolah, anak-anak remaja lelaki berkerumun bersama teman-teman sejenisnya. Sementara pria-pria dewasa, cenderung menyendiri dan tak masalah jika tidak menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya sesering kala ia masih remaja. Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki.

Sebuah penelitian dari lembaga peneliti kesehatan anak yang berpusat di Nebraska, AS, mengungkap bahwa bagi anak lelaki, persahabatan adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa ditawar. Menurut Handwerk, seorang anak lelaki pada dasarnya tak butuh banyak teman, asalkan ia memiliki seorang sahabat. Anak-anak akan lebih mudah terhanyut ke dalam hal-hal negatif jika ia tidak punya sahabat.

Persahabatan memberikan sebuah jalan bagi anak-anak untuk membangun sebuah hubungan dengan dunia di luar keluarganya. Melalui hubungan ini, anak-anak belajar mempertimbangkan cara pandang lain, belajar bernegosiasi, bertoleransi, dan belajar kemampuan yang ia butuhkan untuk bisa menjalani hidup di masa depan.

Faktor Pendorong Persahabatan Anak Lelaki
Jika si anak belum memiliki tanda-tanda mulai menjalin persahabatan dengan rekan sebayanya, orangtua bisa mengambil peran untuk mendorongnya tanpa memaksakan untuk mencari sendiri arti persahabatan dalam hidup.

* Bangun kedekatan di 24 bulan pertama kehidupan anak. Dengan menjaga kedekatan dengan anak, ia akan belajar mempercayai orang lain, tanpa ini, ia akan takut berhubungan.

* Ciptakan kesempatan anak untuk membangun persahabatan. Contoh, janjian dengan orangtua teman si anak untuk berkunjung ke rumahnya dan membiarkan si anak bermain dengan temannya, dan sebaliknya, undang teman anak dan orangtuanya untuk bermain di rumah Anda. Cara lain, ajak anak ke tempat bermain anak, bantu anak berkenalan dengan anak sebayanya, atau sertakan si anak dalam kegiatan-kegiatan aktivitas yang anak suka, seperti les musik atau olahraga.

* Ciptakan pelatihan bersosialisasi. “Berapa banyak orangtua yang mengajarkan anaknya cara memulai pertemanan secara benar?” tanya dr Handwerk. Jangan mengira perkenalan atau kemampuan untuk memulai pertemanan datang secara alami. Orangtua perlu dan bisa mengajar anak laki-lakinya membentuk sebuah hubungan pertemanan yang positif dan sehat dengan melatihnya, misal, cara mendekati sekelompok grup anak-anak. Jangan lupa untuk memerhatikan cara si anak bermain dengan teman sebayanya. Di rumah, tawarkan bantuan Anda untuk melatihnya memulai berkenalan jika ia terlihat sulit mendekati teman sebayanya.

Membangun persahabatan dan kemampuan untuk berkenalan dengan teman sebaya membutuhkan latihan yang cukup, dan Anda sebagai orangtua yang baik patut memerhatikan hal ini, karena sedikit banyak, persahabatan bagi anak laki-laki memiliki pengaruh pada masa depannya.

CARA MENDIAGNOSA AUTIS

Apakah dikarenakan kondisi alam atau kondisi bawaan yang mengakibatkan kelahiran anak mengidap autis, para kalangan ahli juga belum bias memastikan. Bertambahnya jumlah penderita autis di seluruh dunia membuahkan keprihatinan dari ilmuwan dalam bidang kedokteran, sains dan teknologi serta psikolog. Hal ini dibuktikan dengan adanya terobosan di bidang terapi dan perawatan dengan menggunakan pendekatan teknologi dan social seperti floor time. Akan tetapi, penelitian terkait penyebab dan diagnose hingga kini masih menjadi grey area (area tak terdefinisi). Diagnosa autis sangat penting agar dapat diterapkan sejumlah terapi yang tepat guna.

Berbagai cara untuk mendiagnosa telah dilakukan dan salah satu cara yang digunakan dalam diagnose beberapa tahun terakhir adalah berdasarkan sejumlah gejala yang terlihat. Akan tetapi, bila dilihat dari sejumlah fakta dari kondisi di lapangan, perkembangan kejiwaan anak tidak ada patokan yang pasti. Pesat atau tidaknya perkembangan psikologi ini tergantung dari keadaan awal anak dan tidak ada besaran baku yang dapat diukur. Selain itu, perilaku-perilaku bermasalah bias juga dikarenakan pola asuh yang salah.

Cara umum yang mulai dikembangkan adalah descriptive approach to diagnosis. Cara ini merupakan suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa sehingga menyertakan pengamatan-pengamatan yang menyeluruh di setting-setting social anak sendiri. Setting ya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai lingkungan sehari-hari anak dimana hambatan maupun kesulitan mereka tampak jelas di antara teman-teman sebaya mereka yang ‘normal’.

Diagnosa autis diperlukan untuk mengetahui potensi khusus yang dimiliki anak. Salah satu contoh anak autis yang berhasil mengembangkan potensinya adalah Temple Grandine yang mampu mengembangkan kemampuan visual dan pola berpikir yang sistematis sehingga menjadi seorang Doktor dalam bidang peternakan, Donna William yang mampu mengembangkan kemampuan berbahasa dan bakat seninya sehingga dapat menjadi seorang penulis dan seniman, Bradley Olson seorang mahasiswa yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan kebugaran fisiknya sehingga menjadi seorang pemuda yang aktif dan tangkas dan mungkin masih banyak nama-nama lain yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang tua penderita autis di Indonesia.

 

 

 

BEDA CARA PERSAHABATAN ANTARA ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN

Apabila kita mempunyai 2 anak  lelaki dan perempuan, kita akan dihadapkan persoalan dalam menyikapi beberapa perbedaan. Salah satunya perbedaan cara anak laki-laki dan perempuan memandang persabahatan. Saat beranjak dewasa, anak perempuan lebih mendefinisikan persahabatan sebagai teman yang mau mendengarkan dan mengerti, sekaligus tempat curhat dan berbagi emosi. Sementara anak-anak laki-laki memandang persahabatan sebagai teman berbagi waktu bersama, ada di sisinya saat ia menghadapi konflik, dan berbagi ketertarikan yang sama. Bagi anak laki-laki, keintiman emosional tak terlalu penting dalam mendefinisikan kedekatan hubungan ketimbang kesetiaan saat ia menghadapi masalah.

Kedekatan anak dan orangtua terbentuk dalam 24 bulan pertama kehidupannya. Kedekatan itu memiliki pengaruh besar terhadap hidup anak, termasuk melandasi hubungan di masa depan anak. Kehadiran saudara juga memiliki pengaruh terhadap gaya persahabatan anak dalam cara positif dan negatif. Cara anak menghadapi saudaranya bisa memengaruhi caranya bersahabat di masa depan. Beebrapa anak cukup beruntung untuk bersahabat dengan saudaranya sendiri.

Cara anak laki-laki dan perempuan bersahabat serupa di awal usianya, atau hingga masa pre-school. Namun, cara anak laki-laki bersahabat mulai berubah sekitar usia 7 tahun, dan biasanya emosinya pun mulai berkurang. Hal ini bisa terlihat jika Anda memerhatikan interaksi anak-anak perempuan berteman dibanding sekumpulan anak-anak laki-laki saat bermain bersama. Anak perempuan umumnya lebih mudah bergaul, bermain kooperatif, mau menegosiasikan konflik, dan menunjukkan perasaan saat ia bermain rumah-rumahan, misalnya. Sementara anak laki-laki bermain dengan cara berbeda, mereka lebih cenderung bermain dengan cara kompetitif, mengetes kesetiaan teman, dan membandingkan kemampuan fisik dan ukuran.

Salah satu hal yang paling sering didebatkan adalah, mulai di usia 7 tahun, anak laki-laki mulai malas menunjukkan tindakan afeksi kepada orang-orang di sekitarnya, seperti berpelukan. Menurut dr Handwerk, sebenarnya anak laki-laki juga bisa menunjukkan tindakan afeksi sebebas anak perempuan, namun, di kesehariannya, baik itu melalui media sosial atau orang-orang di sekelilingnya tidak menunjukkan tindakan itu, alhasil ia tidak mau melakukan hal-hal afeksi itu, karena di pikirannya itu adalah tindakan yang khusus untuk perempuan yang lemah. Di masa sekarang, tindakan afeksi sudah cukup luwes, tindakan afeksi atau untuk membuat anak lebih terbuka dengan sentuhan afeksi dalam batas wajar bisa diajarkan lewat tindakan orangtuanya.

KENAPA ANAK SUSAH DILARANG ?

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

Apabila anak anda sering merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah.

Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti “jangan”, dan “tidak boleh” kepada anak.

“Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut,” Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, “Jangan nonton TV sampai malam!”.

Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena ketakutan. Kalimat yang lebih baik diucapkan dan didengar anak adalah, “Yuk tidur, sudah malam, besok kan kamu harus bangun lebih awal.”

Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. “Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka.

 

 

LEBIH DEKAT DENGAN ANAK AUTIS

Bagi kebanyakan orang awam mendengar kata autis merupakan kata yang asing dan langka, pasti banyak berbagai macam pikiran saat mendengar kata ‘autis’.

Asing, takut, ngeri, aneh dan tidak bisa diatur, mungkin inilah ungkapan yang terlintas dalam sebagian orang. Sebagian yang lain mungkin berpikiran anak autis adalah anak yang misterius dengan potensi yang luar biasa. Tapi apapun itu, saya akan memberikan sedikit gambaran tentang anak dengan kecenderungan autisme ini.

Anak autis memiliki dunia sendiri yang tidak dapat dijamah oleh orang normal. Anak autis juga cenderung mengurung diri dalam dunia khayalan. Hal ini menyebabkan anak ini terkadang tidak dapat memahami instruksi sederhana yang dianggap mudah bagi orang normal. Sehingga tidak jarang, anak autis ini berlarian saat pelajaran, acuh tak acuh saat ada orang yang mendekat dan bahkan menyakiti dirinya sendiri dengan menggigit atau membenturkan anggota tubuh tertentu ke tembok.

Berbagai hal di atas mungkin akan membuat anda berpikir seribu kali untuk mendekati anak autis. Tapi kawan, ekspresi ini adalah ungkapan hati dari seorang anak karena ingin sekedar ‘mendapatkan perhatian’ dari orang-orang di sekelilingnya. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk merubah kebiasaan ini, mereka membutuhkan bantuan tidak hanya dari trainer dan keluarga tapi juga dari anda yang berada di sekelilingnya.

Apabila anda menemui anak autis di sekitar anda, cobalah sesekali ‘menanyakan nama dan hal yang dia senangi’. Atmosfer yang mendukung seperti adanya perhatian yang lebih dari sekitarnya akan membantu perkembangan. Autis bukanlah suatu penyakit yang membutuhkan obat-obatan medis, tapi anak autis hanya mengalami keterlambatan perkembangan bergantung kondisi sosialnya.